
Download Kamboja sedang mengalami wabah demam berdarah.
Dalam enam bulan terakhir, 60 anak tewas karena penyakit ini. Jumlah kasusnya pun meningkat 200 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kementerian Kesehatan Kamboja memperingatkan, wabah belum berakhir.
Sementara itu, 25 persen penduduk Kamboja yang hidup hanya dengan Rp 10 ribu sehari, kesulitan membayar biaya pegobatan.
Tapi seperti yang dilaporkan Sorn Sarath sejumlah rumah sakit gratis untuk anak-anak sangat membantu orang miskin namun kini mereka kesulitan.
Sekarang sudah pukul 5.30 pagi, dan ratusan pasien sedang mengantri di luar Rumah Sakit Kantha Bopha di Phnom Penh.
Teng Kimsrorn harus pergi lebih dari 100 kilometer bersama anak laki-lakinya yang sakit demam berdarah.
“Saya hanya percaya dengan rumah sakit ini. Ini kali ketiga saya bawa anak laki-laki saya. Dia lahir di sini. Saya tidak pernah pergi ke rumah sakit lain. Semua anak-anak yang datang ke sini ke untuk mendapatkan perawatan bisa diselamatkan.”
Setiap hari, rumah sakit ini merawat lebih dari 3000 anak sakit.
Seluruh pelayanan kesehatan di sini gratis untuk semua orang.
Rumah sakit ini adalah salah satu dari lima rumah sakit di Kamboja yang dikelola dokter asal Swiss bernama Beat Richner.
Dananya berasal dari pemerintah dan sumbangan pribadi lain.
Tapi sekarang mereka tengah kesulitan. Sejumlah staf mengatakan kemungkinan rumah sakit ini harus tutup enam bulan lagi.
Setiap minggu Dr. Beat Richner mengadakan konser cello di kota wisata Siam Reap.
Sebelum konser dimulai, ia bercerita kepada para pengunjung seberapa pentingnya acara ini untuk kelangsungan hidup rumah sakit.
“Tidak ada tempat lain di mana Anda bisa bawa anak Anda untuk dirawat di Kamboja. Semua orang sudah tahu kalau biayanya gratis. Semua perawatan gratis. Jadi selama 20 tahun terakhir kami sudah mengobati 12 juta anak di bagian rawat jalan, dan merawat 1,3 juta anak yang sakit parah.”
Richner menuturkan, tanpa rumah sakit ini, 80 persen anak-anak Kamboja yang sakit bisa meninggal.
“Jadi semua orang sudah tahu; Perdana Menteri Hun Sen sendiri juga tahu, satu-satunya tempat untuk anak-anak yang sakit parah adalah rumah sakit ini. Baru-baru ini cucu Hun Sen sakit...sekarang dia sudah sembuh. Tapi ia masih bawa cucunya ke Rumah Sakit Kantha Bopha.”
Konser malam ini sudah berhasil mengumpulkan dana hampir Rp 7 juta.
Heng Sothy adalah wakil Presiden rumah sakit di Phnom Penh .
“Ini adalah sumbangan besar untuk rumah sakit. Ini tanda yang bagus dari para orang kaya untuk menyisihkan yang mereka kepada rumah sakit. Rumah sakit ini untuk semua anak-anak.”
Tapi upaya ini masih jauh untuk menutup biaya operasional rumah sakit.
Mereka membutuhkan dana hampir Rp 300 juta per bulan.
Biaya yang besar adalah untuk menggaji hampir 2500 dokter dan perawat yang terampil.
Penghasilan para dokter bisa mencapai hampir Rp 8 juta per bulan - jauh lebih tinggi dibandingkan gaji dokter di rumah sakit negeri sebesar Rp 400 ribu.
Karena semakin banyaknya jumlah pasien demam berdarah, maka sumbangan pribadi saja tidak cukup.
Juni lalu, Dr. Richner menyerukan kepada masyarakat, pemerintah Kamboja dan komunitas internasional untuk membantu lebih banyak lagi.
Ia juga mengkritik sistem kesehatan negeri itu dan sektor swasta yang mengenakan biaya yang terlalu tinggi kepada para pasien miskin.
Awal bulan ini pemerintah Kamboja dan Palang Merah Kamboja masing-masing menyumbangkan hampir Rp 10 milyar lebih ke berbagai rumah sakit itu.
Sok Touch adalah Direktur Departemen Pengendalian Penyakit Menular.
“Pemerintah sudah memperhatikan hal ini, kami sudah menyumbangkan uang. Setiap kali ada masalah, kami harus duduk bersama dan memikirkan berbagai masalah kesehatan itu. Ini adalah prioritas pertama berdasarkan strategi Kementerian Kesehatan.”
Kembali ke rumah sakit.
Sambil mengantri, Ing Sokchea 32 tahun menyuapi bayinya yang masih berumur tiga bulan.
Anak laki-lakinya mengalami sakit pernafasan.
“Saya baru pertama kali datang ke sini. Saya ingin rumah sakit tetap meneruskan pelayanannya. Ada begitu banyak anak miskin di negeri ini. Kalau rumah sakit ini ditutup, anak-anak kami akan mati. Rumah sakit ini adalah satu-satunya harapan kami.”










