
Download Dalam sebuah kesempatan yang sangat langka, pemerintah Burma menghentikan proyek bendungan hidroelektrik yang sudah lama direncanakan dan menuai banyak kontroversi.
Langkah ini diambil sebagai jawaban atas banyaknya tentangan dari masyarakat.
Bendungan yang sedang dibangun itu bekerja sama dengan perusahaan energi Cina yang dikelola negara.
Dibangun di Sungai Irrawaddy, bendungan itu akan menciptakan sebuah tempat penampungan air yang sedikit lebih besar dari Singapura; menggusur setidaknya 10 ribu orang dan tak pelak merusak salah satu daerah yang punya keanekaragaman hayati paling beragam di dunia.
Sebagian besar listrik yang dihasilkan bakal mengalir ke Cina --- yang konon menurut sejumlah laporan bakal mencapai angka 90 persen.
Seperti yang dilaporkan Nay Thwin, penundaan ini adalah peruabahan tak terduga yang dilakukan rezim Burma.
Sungai Irrawaddy punya nilai sangat penting bagi rakyat Burma.
Sungai itu menyediakan air untuk tanaman pangan, dan rumah bagi ikan, burung dan hewan.
Sungai ini juga punya nilai emosional yang sangat tinggi.
Lirik lagu populer ini berbunyi 'Irrawaddy adalah ibu kita - Irrawaddy adalah jiwa kita.'
Begitu diumumkan kalau sebuah bendungan besar akan dibangun di sungai tersebut, sontak ini memancing kemarahan dari pakar lingkungan, pemimpin oposisi Aung San Suu Kyi dan bahkan kritik dari pejabat pemerintah – sesuatu yang sangat jarang terjadi.
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan penasihat ekonomi yang baru ditunjuk Presiden, Profesor U Myint mengatakan itu ide yang buruk.
“Sungai itu penting, penting bagi kita semua. Jadi saya harus lakukan ini. Saya telah mengajukan analisis saya kepada otoritas tertinggi.”
Dia menuntut penyelidikan rinci terhadap dampak sosial dan lingkungan sebelum keputusan dibuat terhadap nasib bendungan tersebut.
Bendungan itu dibangun di lingkungan sensitif dan daerah rawan gempa, di mana para pejuang bersenjata etnis minoritas Kachin memerangi tentara Burma.
Organisasi Kemerdekaan Kachin melihat bendungan sebagai ancaman langsung terhadap masyarakatnya dan mata pencarian mereka dan ini telah mengakhiri perdamaian yang berlangsung selama 16 tahun.
Perang yang dimulai Juni lalu itu memaksa ribuan orang meninggalkan rumah mereka.
Para pemberontak menahan para insinyur Cina, pekerja konstruksi dan truk perusahaan.
Meski ada penentangan dan pertumpahan darah, dalam konferensi pers awal September lalu, Menteri Tenaga Listrik Zaw Min bersikeras, proyek itu tetap dilanjutkan.
“Kami tidak akan mundur hanya karena kelompok lingkungan hidup menentangnya. Saya katakan ini untuk memperjelas di tengah histeria ini; kita akan terus maju. Kami menjalankan proyek ini dengan Cina karena negara kami tidak punya uang. Jika kami punya uang, kami akan melakukannya sendiri. Bahkan jika kami punya uang, bendungan ini akan menghasilkan energi lebih banyak dari kebutuhan negara. Jadi ini keputusan yang masuk akal. Kami punya surplus, jadi kami menjualnya. Ketika kami tidak mampu untuk melakukannya sendiri, kami harus mengundang investor asing dan kami mendapatkan 10 persen dari energi yang dihasilkan secara gratis.”
Komentar ini memicu kemarahan komunitas online Burma, yang menyalin lagi pidatonya di facebook dan twitter.
Sebuah protes langka menentang pemerintah pun terjadi.
Di Pagoda Sule yang terkenal di pusat kota Rangoon, puluhan orang berdoa agar proyek bendungan dihentikan.
Para pengunjuk rasa mengenakan kaos kuning dengan logo 'Selamatkan Irrawaddy'.
Ini adalah demonstrasi publik pertama sejak pemberontakan yang dipimpin biksu tahun 2007.
Setelah negosiasi, polisi membolehkan kerumunan untuk berdemonstrasi secara damai.
Tiga hari setelah demonstrasi, Presiden Thein Sein itu membuat pengumuman yang mengejutkan.
Ia mengatakan 'Proyek ini melawan kehendak rakyat' dan harus ditunda sampai 2015.
Aung San Suu Kyi segera menyambut baik keputusan tersebut.
“Sangat baik kalau pemerintah mendengarkan rakyatnya. Semua pemerintah seharusnya mendengarkan suara rakyat dan menanggapi keprihatinan mereka secara serius.”
Kata-katanya bergema sampai ke Eropa dan Washington.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, Victoria Nuland.
“Kami menyambut baik pengumuman Presiden Burma Thein Sein hari ini, bahwa Burma akan menangguhkan pembangunan bendungan Myint Sone di utara Burma.”
Tapi perusahaan milik negara Cina sangat marah dengan berita itu.
Mereka memperingatkan bakal mengambil tindakan hukum untuk melindungi investasi senilai lebih dari Rp 26 triliun itu.
Presiden China Power Investment mengatakan ia 'benar-benar terkejut' dan mengatakan Cina telah mengikuti semua hukum dan peraturan dan 'rajin memenuhi tugas dan kewajibannya'.
Tapi untuk saat ini, pakar lingkungan hidup seperti U Ohn, tengah merayakan momen yang sangat jarang terjadi ketika pemerintah militer mendengarkan kehendak rakyat.
“Ini berita yang sangat bagus, saya sangat senang. Ini menunjukkan presiden tidak menentang kehendak rakyat. Saya sangat berterima kasih kepada pemerintah atas keputusan ini meski kita semua tahu ini hanya akan ditangguhkan selama tiga tahun dan bisa mulai lagi. Tapi keputusan ini yang sangat disambut baik dan keputusan yang sangat bijaksana.”










