
Download Dua ratus laki-laki etnis minoritas Burma, Rohingya, sudah berada dua tahun lebih dalam kondisi terlantar tanpa kewarganegaraan di penjara India.
India menyelamatkan mereka di laut pada akhir 2008 setelah mereka mengaku militer Thailand mengambil mesin perahu dan menarik mereka ke lautan lepas dan meninggalkan mereka.
Shaikh Azizur Rahman berhasil berbicara dengan Ali, yang masih berada di penjara India di Port Blair lewat telepon.
“Saya orang Rohingya dari Arakan,Burma. Tahun 1999 saya menyeberang ke Bangladesh. Di Burma kami selalu menghadapi penyiksaan dari militer. Mereka memaksa kami melakukan pekerjaan kasar. Dan sering kami tidak dibayar. Hidup kami sangat sengsara. Jadi, bersama orangtua, kerabat dan tetangga lainnya, kami meninggalkan Burma diam-diam.”
Rohingya adalah minoritas Muslim yang punya akar sejarah di Burma. Namun, mereka kehilangan kewarganegaraan pada 1982.
Orang Rohingya mengatakan mereka secara sistematis dan penuh kekekerasan ditindas pasukan keamanan Burma.
Ali mengatakan dia tidak punya pilihan selain pergi ke Bangladesh. Tapi di sana Rohingya juga menghadapi masa depan yang tidak pasti.
PBB memperkirakan sekitar 200 ribu orang Rohingya tinggal di antara masyarakat lokal, sementara 30 ribu lainnya tinggal di tiga kamp pengungsi.
Orang Rohingya diabaikan hak-imigrasi dan status pengungsi formalnya di Bangladesh.
Makin banyaknya orang-orang Rohingya yang putus asa seperti Ali, membuat mereka mencoba perjalanan ilegal dengan perahu yang berbahaya ke Thailand Selatan dan Malaysia.
Mereka berharap bisa mencari pekerjaan dan tempat tinggal yang lebih baik.
”Dalam perjalanan menuju Malaysia, di Thailand kami tertangkap tentara Thailand. Mereka menahan kami selama 10 hingga 12 hari sebelum membiarkan kami terapung-apung di tengah laut dengan kapal tanpa mesin. Kami terapung tanpa makanan dan air selama 14 hari. Sebagain besar dari kami meninggal. Di satu perahu ada 412 orang yang ditarik ke laut oleh Angkatan Laut Thailand. Dan hanya 107 di antaranya yang tiba di Kepulauan Andaman.”
Mereka dimasukkan ke penjara India. Semua manusia perahu yang selamat, mengaku berasal dari Bangladesh.
Namun, hanya separo dari mereka yang telah dipulangkan ke Bangladesh. Sementara masih ada 200 orang lebih tahanan masih dipenjara setelah dua tahun diselamatkan.
Ali putus asa bisa kembali ke Bangladesh.
“Seperti yang diminta pemerintah Bangladesh, kerabat saya di Bangladesh menyerahkan semua dokumen yang diperlukan, yang membuktikan saya penduduk legal di Bangladesh. Namun, saya tidak tahu mengapa pemerintah Bangladesh menolak saya kembali ke keluarga saya di sana. Istri dan anak-anak saya menangis ingin saya kembali. Setiap hari saya menangis dan mencari cara kembali ke rumah. Tapi tidak ada yang mendengarkan. Saya rasa saya harus terus menangis sampai saya meninggal di penjara ini.”
Sejak 1992 Bangladesh telah melarang UNHCR untuk mendaftarkan pengungsi Rohingya.
Sehingga orang Rohingya yang tiba di Bangladesh dalam 19 tahun terakhir dicap sebagai imigran ilegal.
Berbicara dari Bangladesh, tokoh masyarakat Rohingya, Salim Ullah, mengatakan ada keengganan untuk memberikan status pengungsi kepada mereka.
“Populasi Rohingya saat ini dan terus berdatangannya pengungsi, merupakan beban besar bagi Bangladesh. Jika Bangladesh mulai memberikan bantuan bagi pengungsi, akan makin banyak orang Rohingya yang datang kemari karena mereka hidup dalam kondisi yang buruk di Burma. Karena itu Bangladesh tidak bersemangat membantu pengungsi di sini. Namun, jika Bangladesh mengambil peran proaktif dan melibatkan masyarakat internasional untuk menangani masalah Rohingya, maka masalah kami bisa diselesaikan.”
Ia mengatakan jalan keluarnya adalah dengan menekan Burma untuk menghormati hak-hak orang Rohingya.
“Sebelum pemilu 2010, selama kampanye Presiden Burma Thein Sein berjanji akan segera memperbaiki situasi bagi orang Rohingya. Tapi setelah pemilu, ia gagal memenuhi janjinya. Bahkan situasi kami tambah buruk. Jika Burma mengembalikan hak-hak dasar kewarganegaraan ke orang Rohingya dan menghentikan pelanggaran hak asasi manusia terhadap mereka, semua pengungsi dari Bangladesh dan negara-negara lain akan kembali ke Burma.”
Tapi ke Burma bukanlah jawaban dari pertanyaan Ali. Istri dan lima anaknya adalah orang Bangladesh dan di sanalah rumah mereka sekarang.
“Bangladesh adalah negara Muslim. Kami Muslim yang miskin, yang mengalami penderitaan mengerikan. Bangladesh harus bersimpati kepada kami, dan membiarkan kami kembali ke sana. Karena di sana ada keluarga yang menunggu. Kami hidup di desa dan tidak akan membebani masyarakat lain. Kami juga tidak akan jadi pegawai negeri dan akan bekerja sebagai buruh harian. Kami harap pemerintah Bangladesh akan membantu mengakhiri penderitaan kami di penjara India.”
Istri Ali yang berada di Bangladesh menyuarakan keresahannya.
“Saya tidak punya cara untuk menghidupi keluarga dan suami saya tidak ada saat ini. Anak-anak saya pergi mengemis dan kami hidup dari itu. Pemerintah Bangladesh seharusnya baik kepada kami dan membantu suami saya kembali ke Bangladesh secepat mungkin.”
Meskipun kisah Ali mengerikan, namun, orang-orang Rohingya lainnya masih terus mencoba perjalanan perahu berbahaya, dengan harapan bisa mencapai Malaysia.










