AsiaCalling

Home Laporan Khusus Jasa Keamanan Pribadi, Industri Yang Membludak Di Asia Penjaga Keamanan Swasta Bertugas Di Garis Depan

Penjaga Keamanan Swasta Bertugas Di Garis Depan

E-mail Cetak PDF

 

Download Usaha jasa keamanan swasta sedang booming Pakistan.

 

Terdapat lebih dari 600 perusahaan beroperasi di seluruh negeri itu.

Hampir semua perusahaan dikelola bekas tentara dan polisi. Sementara perusahaan itu mendapat keuntungan besar dari ketidakamanan di negara itu, para penjaga keamanan swasta itu mengatakan penghasilkan kecil sementara resiko tinggi menanti karena  berada di garis depan.

Mudassar Shah bertemu beberapa di antara  mereka di Peshawar.

 


Pukul 5 pagi. Rahman Khan, 58 tahun, meloncat ke sepeda motornya dan mengendarainya ke pos nya di luar kantor kantor LSM internasional di Peshawar.

Butuh waktu satu setengah jam untuk sampai di kantor. Ia pensiunan Tentara Pakistan pada 1985 dan sejak itu ia bekerja di kantor keamanan G4S.

“Saya tahu bakal yang pertama terbunuh oleh bom bunuh diri. Mereka menargetkan dan membunuh pasukan keamanan di Kantor Konsusulat Amerika bulan lalu. Tapi saya tidak bisa melepas pekerjaan ini. Saya bertahan agar dapat pensiun saat berusia 60 tahun. Setelah itu, saya bisa dapat uang pensiun lebih dari 200 ribu sebulan.”

Rahman bekerja 12 jam selama tujuh hari selama seminggu. Ia sudah bekerja di perusahaan itu selama 14 tahun. Ia tidak dapat libur. Jika sehari saja ia tidak masuk, gajinya dipotong.

“Anak saya berhenti  sekolah karena ia tahu saya tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Ia mulai bekerja jadi kernet bus. Saya sedang bertugas saat dapat kabar ia meninggal. Bukannya bersimpati atas musibah yang saya alami, perusahaan malah memotong gaji saya karena tidak masuk kerja selama lima hari. Saya tidak bisa melupakan kejadian itu. Mereka seharusnya membantu yang miskin.”

Perusahaan Rahmat dimiliki oleh bekas tentara Ikram Sehgal dan bekerja sama dengan perusahaan keamanan Amerika Serikat, Wackenhut.

Jasa keamanan swasta sedang naik daun saat ini di Pakistan. Ada lebih dari 600 perusahaan keamanan besar. dan hampir semuanya dikelola oleh bekas anggota polisi dan tentara. Pensiunan Mayor Munir Ahmed, ketua Asosiasi Perusahaan Keamanan Seluruh Pakistan.

“Saya tidak bisa mengatakan berapa pendapatan perusahaan ini. Tergantung permintaan tapi yang jelas kalau tidak menguntungkan, kami tidak akan membuka perusahaan ini. Yang bekerja di sini merupakan bekas anggota tentara dan pegawai sipil. Dan perusahaan ini banyak dijalankan bekas tentara.”

Para analis industri itu menghasilkan lebih dari lima ratus milyar rupiah lebih per tahunnya. Organisasi internasional, perusahaan dan orang kaya menyewa penjaga kemanan swasta karena mereka tidak percaya kepada polisi Pakistan. Perusahaan jasa keamanan merekrut  pensiunan tentara atau polisi karena mereka tidak perlu di latih lagi.

Tapi kebutuhan akan jasa pengamanan swasta menuntut mereka untuk merekrut tenaga baru. Perusahaan G4S baru-baru ini melakukan perekrutan di Peshawar. Para pria muda berdiri dalam antrian selama lima jam lebih untuk wawancara kerja.  Banyak yang merasa kecewa.  Salah satunya lulusan Universitas Peshawar.

“Saya orang miskin dan tidak punya pengalaman sebagai penjaga keamanan. Pekerjaan itu hanya untuk yang berpengalaman.”

Banyak penjaga keamanan yang mengeluh gajinya rendah dan diberi senjata tua.

Shabeer Ahmad, 59 tahun, berdiri di luar gedung betingkat tiga dengan senjata tua yang kotor di bawah terik matahari. Dia bekerja di perusahaan Keamanan PHOENIX yang bekerja sama dengan Brinks Incorporated yang berada di Amerika Serikat.

“Saya bekerja sebagai supir selama 13 tahun di perusahaan itu. Lalu perusahaan memecat saya namun, besoknya mereka memanggil saya bekerja kembali. Tapi gaji saya berkurang hingga tujuh ratus ribu sebulan.”

Saat saya bertanya pada pegawai senior soal tempat berteduh bagi penjaga, ia mengatakan jika mereka tidak suka, mereka bisa cari pekerjaan lain. Terik matahari bukanlah ancaman paling serius yang dihadapi para penjaga ini.

Moto Perusahaan keamanan PHOENIX adalah “Tidak Ada Yang Akan Rugi Jika  Mempercayakan Barang Berharganya Kepada Kami.” Salah satu sopir truk baja berusia 58 tahun yang tak mau mengungkapkan identitasnya mengatakan bahayanya pekerjaan itu.

“Saya tahu pekerjaan saya beresiko dan bisa meninggal kapan saja. Satu saat ada 25 orang menyerang kami ketika sedang membawa uang tunai. Saya tertembak dan terpaksa dirawat di rumah sakit dalam waktu yang lama. Empat orang lain juga tertembak. Saya menyetir secepat-cepatnya. Saya bisa menyelamatkan uang tunai dan tiba di kantor polisi terdekat. Masih ada pecahan kaca di leher saya tapi saya tak punya biaya untuk mengeluarkannya. Gaji saya hanya sekitar 500 ribu sebulan.”

Asia Calling meminta wawancara dengan manjemen kantor keamanan G4 di Peshawar tapi mereka menolak memberi komentar.

Ashraf Khan, 20 tahun, menangis saat bekerja di bengkel. Ayahnya seorang penjaga kemanan dan tewas dalam ledakan bom di Peshawar April lalu. Ia tak menerima apapun dari perusahaan.

“Saya beberapa kali pergi ke ke perusahaan itu namun, tidak ada yang menemui saya. Semua pegawai menatap saya, saya butuh bantuan mereka karena ayah saya meninggal saat bertugas. Paling tidak mereka bisa memberi saya pekerjaan. Aku bisa jadi penjaga keamanan yang lebih baik daripada pria berusia 60 tahun. Tapi saya tidak punya pengalaman atau uang untuk menyuap petugas. Sekarang saya bekerja sebagai montir.”

 

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 19 Juli 2010 13:13 )  
 
      
 
  • Siaran Minggu Ini

Inside the women only zone in Afghanistan: This week in Asia Calling, we paid a visit to Kabul’s Women’s Garden, a state-run multi center where hundreds of Afghan women go to shop, work-out and learn new skills.....like driving Some say the eight-acre enclosure in the Shahrara neighborhood goes back to 1500s. More reliably it is dated to the 1940s or ’50s, when King Zahir Shah was said to have give it to the state. Three years ago it underwent a renovated with foreign aid money. Normally strictly a women’s only zone reporter Malyar Sadeq Azad was given permission to go inside for Asia Calling.

A Filipino who has taken part in 25 Easter crucifixions: On Good Friday– the holiest day of the year for Catholics- dozens of very devout followers in the Philippines re-enact the crucifixion of Jesus Christ. They nail their feet and hands nailed to wooden crosses, while others will flog themselves while walking barefoot through villages. The Philippines is Southeast Asia’s largest Roman Catholic nation. Madonna Virola meets one man who has carrying out this painful tradition for 25 years.

These stories and much more this week

on Asia Calling:

Your Window on Asia