AsiaCalling

Home Berita South Korea Korea Melarang Hukuman Fisik di Sekolah

Korea Melarang Hukuman Fisik di Sekolah

E-mail Cetak PDF

Download Pendidikan di Korea Selatan ditangani dengan sangat serius.

Selama berabad-abad, orangtua memaksa anak-anak mereka untuk belajar dengan giat agar mendapat gelar.

Tujuannya supaya mereka mendapat posisi yang lebih tinggi dalam masyarakat.

Beberapa orang mengatakan hukuman fisik di sekolah adalah bagian dari tradisi.

Tapi mulai tahun ini, Korea Selatan melarang hukuman fisik langsung.

Kini guru-guru dan siswa bersama-sama mencari alternatif apa yang akan dipakai.

Dari Seoul, reporter Jason Strother mengisahkan cerita selengkapnya.


Cho Eun Ae punya satu kenangan di sekolah menengah yang sulit ia lupakan.

Perempuan 23 tahun ini mengingat kembali saat ia masih anak baru. Seorang guru sangat marah padanya karena ia ngobrol dengan seorang teman selama pelajaran.

“Ia berteriak 'buka tangan mu' dan saya buka tangan saya. Lalu ia memukul tangan saya dengan tongkat.”

Q. Berapa kali ia memukul Anda?

“Saya tidak ingat persisnya tapi beberapa kali dan rasanya sangat sakit”

Banyak orang Korea yang punya pengalaman seperti Cho.

Para guru diperbolehkan menggunakan cara, yang banyak orang sebut sebagai ‘tongkat cinta’ dan menggunakannya untuk mendisiplinkan para siswa dengan berbagai kesalahan.

Hukuman fisik dilihat sebagai simbol tradisi pendidikan Konfusianisme Korea. Tapi beberapa guru membawanya terlalu jauh.

Tahun lalu, seorang pelajar menggunakan telefon genggamnya secara diam-diam untuk merekam  pemukulan teman sekelasnya, yang dilakukan guru kelas enam. Guru tersebut mendorong dan meninju siswa itu dihadapan anak-anak lain.

Video ini kemudian diunggah ke situs dan mengejutkan banyak orangtua, pelajar dan guru.

Dan pada 1 Maret lalu, bersamaan dimulainya tahun ajaran baru di Korea, pelarangan secara nasional hukuman fisik diberlakukan.

Tapi larangan ini membuat beberapa pendidik harus mencari alternatif baru untuk mempertahankan ketertiban di kelas.

Ra Dong Chul, Kepala Sekolah Menengah Putri, Jung-ang.

Ia memberikan beberapa contoh.

“Siswa bisa disuruh berdiri selama jam pelajaran atau lari keliling lapangan. Atau bisa memungut sampah di lingkungannya atau berpartisipasi dalam kampanye sekolah. Ia bisa berdiri di aula dan mengatakan kepada siswa lain untuk tidak terlambat masuk kelas.”

Ra mengatakan ia menanti Kementerian Pendidikan merilis panduan baru disiplin di sekolah sebelum melaksanakan hukuman alternatif itu.

Tapi beberapa pendidik lain mengatakan metode ini tidak lebih baik.

Dong Hoon Chan, ketua Komite Serikat Pekerja Pendidikan dan Guru Korea .

Ia mengatakan semua bentuk hukuman fisik itu salah, baik langsung atau pun tidak langsung.

“Kami mendukung pendidikan disiplin non fisik. Seperti mengirim anak ke ruang refleksi diri atau mengajak mereka mendaki gunung bersama para guru untuk meningkatkan komunikasi mereka.”

Dong mengatakan Kementrian Pendidikan seharusnya menggelar lebih banyak diskusi dengan para guru, soal bagaimana cara terbaik mengontrol siswa mereka sebelum larangan hukuman fisik diberlakukan.

Tapi yang cukup mengejutkan adalah beberapa siswa di sini mengatakan pelarangan itu sebuah kesalahan.

Park Bum-jun,18 tahun, mengatakan para guru tidak punya otoritas lagi dan anak-anak nakal akan mengambil keuntungan dari hal ini.

“Sejak larangan itu muncul, beberapa anak memukul gurunya karena mereka tahu mereka tidak akan dihukum. Saya tahu larangan itu seharusnya melindungi HAM para siswa, tapi ini benar-benar melukai hak para guru.”

Lee Chun Joo, 17 tahun, sepakat dengannya.

“Menurut saya masyarakat kita butuh beberapa jenis hukuman untuk membuat para pelajar mengubah kelakuannya. Para guru tidak memukul siswanya karena marah, tapi untuk membuat siswanya lebih baik. Mereka ingin murid-murudnya sukses. Ini adalah tradisi kami.”

Lee mengatakan karena alasan itulah muncul istilah ‘tongkat cinta.”

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 28 Maret 2011 14:46 )  

Add comment


Security code
Refresh