AsiaCalling

Home Berita Philippines Rakyat Filipina Berkumpul dalam Perayaan Black Nazarene

Rakyat Filipina Berkumpul dalam Perayaan Black Nazarene

E-mail Cetak PDF

Download Ratusan ribu orang turun ke jalanan Manila pekan ini untuk menghormati patung Yesus Kristus yang dikenal dengan Black Nazarene.

Sebelumnya, pemerintah telah memperingatkan tentang rencana teroris untuk mengganggu festival tahunan itu, tapi ternyata itu tidak terjadi.

Patung yang berusia beberapa abad ini dianggap punya kekuatan penyembuhan. Patung ini berwarna hitam karena selamat dari kebakaran yang menenggelamkan kapal yang membawanya ke Filipina.

Kita simak kisah selengkapnya yang disusun Madonna Virola.

Barisan panjang para peziarah yang datang dari berbagai penjuru negeri, menyentuh patung Black Nazarene atau Yesus yang berwarna hitam, di Quipo, salah satu daerah ibukota yang tersibuk dan tertua.

Adelina Benedicto, 80 tahun, mengaku patung itu sudah menyembuhkannya.

“Saya dulu sangat sakit terutama di paru-paru dan hampir hilang kesadaran. Saya bilang pada teman saya, untuk membawa saya ke Black Nazarene dan saya kembali sadar dan merasa sehat.”

Patung yang usianya beberapa abad itu berasal dari Meksiko saat kolonial Spanyol berkuasa. Patung ini dipercaya membawa keajaiban dan mampu mengabulkan doa.

Patung itu berwarna hitam karena selamat dari kebakaran yang menenggalamkan kapal yang membawanya ke Filipina.

Dr. Erlinda Acierto seorang sosiolog di Institut Sosial Asia, kantornya terletak tak jauh dari tempat patung itu disimpan.

“Saya mendengar dua cerita – seorang perempuan yang anak laki-lakinya menjadi sangat menonjol. Ketika anaknya masih bayi, ia menderita penyakit paru-paru. Perempuan itu membawa bayinya ke Black Nazarene dan bayi itu menjadi sehat. Cerita lain berasal dari konsultan investasi kami. Selama perang, ada perintah untuk mengebom gereja, tapi ketika orang itu berada di puncak gereja untuk membom, ia tidak bisa melihat gereja, ia hanya melihat hutan. Ini adalah hal-hal yang tidak dapat kita jelaskan, tapi fenomena ini nyata karena ini pengalaman hidup.”

Setiap tahun patung itu diarak dengan kereta melewati jalan-jalan namun tahun ini adalah waktu arakan yang paling lama yaitu selama 22 jam.

Ribuan massa memadati daerah itu untuk menyentuh patung Black Nazarene atau setidaknya tali yang menarik kereta itu.

Maureen Quinzon, seorang pedagang dari Calapan menonton prosesi itu dari televisi. Ia  mengkritik praktik itu.

”Menurut saya beberapa orang hanya ingin 'berada di kelompok itu'. Karena jika Anda benar-benar beriman kepada Tuhan, dan bahwa Anda akan disembuhkan, itu juga bisa lewat doa-doa biasa atau pergi ke misa pada hari Minggu. Bukannya pergi ke kerumuman besar seperti itu, bahkan saya kasihan pada orang-orang tua. Anda juga bisa mengikuti nasihat dokter. Keajaiban ada dalam hati manusia. Kami juga mengamati prosesi lain seperti festival bunga pada bulan Mei, tapi tidak sekacau ini.”

Tapi sosiolog Erlinda Acierto mengatakan praktik itu punya makna yang dalam bagi umat Katolik Filipina.

”Beberapa orang yang diwawancarai mengatakan ini cara membersihkan diri. Apa yang Anda lakukan diatur oleh filosofi Anda sendiri. Berdoa untuk orang lain, bagi ibu yang sakit, untuk kesatuan. Dan bahwa kita akan punya lebih banyak bencana, dan kami bersyukur kepada Tuhan karena diselamatkan dari bencana. Ini adalah iman yang mendalam. Mereka menemukan makna dalam Black Nazarene yang jadi perantara bagi mereka kepada Allah Bapa, untuk mengabulkan doa-doa mereka.”

Selama prosesi arak-arakan, ratusan orang luka-luka dan dibawa ke rumah sakit terdekat.

Di masa lalu, puluhan peziarah meninggal dunia selama prosesi karena mereka terdesak kerumunan yang agresif atau mendapat serangan jantung.

Erlinda Acierto.

“Itu saat kita berefleksi, saat kita harus mengajarkan orang lain bahwa jika itu membahayakan mereka, mereka juga harus mempertimbangkan untuk mendengarkan.  Jika praktik yang kita lakukan berbenturan dengan kebaikan masyarakat, kita harus siap untuk berubah, untuk menerima masukan.”

Uskup Manila,  Luis Antonio Tagle, pada saat isa Kudus di  Quirino Grandstand, menghimbau para peziarah untuk membersihkan sampah setelah arak-arakan.

Tapi massa tidak mendengarkan dia dan daerah itu seperti tempat pembuangan sampah setelah prosesi usai.

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 16 Januari 2012 14:23 )  

Add comment


Security code
Refresh