
Download Bulan Juni, yang berasal dari nama Juno dewi pernikahan mitologi kuno Romawi, merupakan bulan yang populer bagi para pasangan di Filipina untuk menikah.
Mereka mengucap janji untuk saling setia hingga maut memisahkan mereka.
Di jiran itu mereka harus sungguh-sungguh dengan janji tersebut.
Pasalnya, tinggal Filipina dan Vatikan dua negara tersisa di dunia yang melarang perceraian.
Karena peristiwa yang terjadi di sana, satu panel dari Dewan Perwakilan Rakyat kini mencoba mengembalikan rancangan undang-undang perceraian.
Ikuti laporan yang disusun Madona Virola dari Manila.
Luzviminda Ilagan, ketua nasional kelompok perempuan GABRIELA.
Ia juga wakil Kongres dan salah satu pembuat rancangan undang-undang perceraian yang pertama kali dibuat pada 2004.
“Ini ketiga kalinya kami mengajukan rancangan undang-undang perceraian yang disebut dengan “perceraian gaya Filipina”. Gaya ini berbeda dengan gaya ala Las Vegas, karena budaya Filipina masih menghormati pernikahan sebagai satu institusi. Tapi pada kenyataannya ada begitu banyak pernikahan yang tidak bahagia. Di sana para perempuan menderita karena mengalami kekerasan dalam rumah tangga berulang kali.”
Berdasarkan catatan polisi, pada tahun 2009 setiap hari 19 perempuan menderita karena kekerasan dalam rumah tangga. Menurut hukum Filipina yang ada, pernikahan bisa diakhiri atau dibatalkan namun melalui proses yang mahal dan panjang.
Jadi sebagian besar orang akhirnya berpisah secara sah tanpa hak untuk menikah lagi.
Anggota kongres Luzviminda Ilagan, menjelaskan, rancangan undang-undang peceraian akan mengubah hal itu.
“Kami sudah memikirkan perceraian ala Filipina dan itu berarti harus cerai dengan beberapa persyaratan. Contohnya, satu pasangan suami isteri bisa bercerai kalau mereka sudah berpisah selama lima tahun. Dan, kalau tidak ada kemungkinan untuk rujuk kembali, mengapa kita tidak izinkan mereka untuk bercerai, supaya mereka bisa melanjutkan hidup mereka dan menikah lagi. Kalau ada salah satu dasar untuk berpisah secara sah seperti ditinggal pasangannya, perselingkuhan dan seterusnya. Selain itu, kalau ada yang tidak beres dengan psikologi isteri atau suami, ketidak cocokan, atau pernikahan itu sudah tidak bisa diselamatkanlagi setelah melalui proses untuk rujuk kembali.”
Maria Estela Gaba, orangtua tunggal yang baru saja melewati proses yang mahal untuk membatalkan pernikahannya, setelah sang suami meninggalkannya.
“Anak saya autis. Saya sudah berpisah dengan suami saya selama 11 tahun lebih. Saya baru saja mengajukan pernyataan pembatalan pernikahan di pengadilan dan itu baru selesai bulan lalu. Suami saya menginginkan anak yang normal. Jadi itu sebab mengapa ia mencari perempuan lain supaya bisa punya anak. Dia ingin sekali punya anak yang normal. Kami sudah bisa jadi teman, saya sudah mulai bicara dengan mertua tapi kami setelah melewati proses yang sulit, karena kami bertengkar.”
Ia mendukung rancangan undang-undang perceraian.
“Kami saling memberikan kesempatan untuk menjalankan pernikahan yang sukses. Kembali ke kasus saya, tentunya saya ingin pernikahan yang bahagia, satu hubungan yang nantinya akan mengarah pada pernikahan. Mengapa kita tidak memberikan kesempatan pada mereka yang benar-benar tulus, orang yang baik yang bisa menjaga satu hubungan, meski hubungan mereka yang sebelumnya tidak berhasil.”
Menurut satu polling yang dibuat Social Weather Station, sekitar separuh warga Filipina mendukung pengesahan undang-undang perceraian.
Namun, perubahan undang-undang sangat ditentang oleh Gereja Katolik yang sangat berpengaruh di negeri itu.
Pengacara hukum Katolik Vic Uy, hakim dalam pengadilan pernikahan yang memutuskan apakah satu pernikahan bisa dibatalkan atau tidak.
“Pertama ini tidak konstitusional karena menurut Konstitusi Filipina tahun 1987 sudah dikatakan dalam deklarasi hak hak kebebasan dan kebijakan negara, bahwa keluarga harus dilindungi dan dikuatkan sebagai satu institusi yang mendasar. Ini adalah hukum yang bertentangan dengan Tuhan. Dalam firman Tuhan, Yesus sangat jelas ketika menyatakan apa yang dipersatukan Tuhan dalam satu pernikahan suci, adalah penyatuan laki-laki dan istrinya hingga maut memisahkan mereka. Hukum perceraian tidak bermoral dan bahkan akan mengarah pada perbuatan tidak bermoral yang membuat orang berpikir pikiran bahwa mereka bisa melakukan sesuka hatinya.”
Sejumlah aktivis perempuan mengklaim masyarakat Filipina yang didominasi laki-laki tidak peka pada kebutuhan para perempuan yang menderita yang dikondisikan sebagai korban.
Namun Romo Melvin Castro, yang menjabat sebagai sekretaris eksekutif Komisi Keuskupan bagian Pelayanan Keluarga dan Hidup Masyarakat di Konferensi Uskup Filipina tak sepakat.
“Kami selalu menekankan betapa pentingnya keluarga dan anak-anak. Mereka menggambarkan definisi barat feminisme. Ada satu ungkapan Filipina yang mengatakan, memasuki pernikahan ibarat memasukkan nasi yang hangat tapi lidah Anda terbakar karena nasi itu terlalu panas. Jadi Anda buang nasi itu. Kami ingin berbagai pernikahan berjalan sebaik mungkin. Saya sudah mengamati berbagai pasangan. Ketika pernikahan itu tidak berjalan baik, mereka berpisah. Tapi khususnya para perempuan, mereka tidak akan menikah lagi karena mereka sayang dengan anak-anak.“
Kalau rancangan undang-undang perceraian tidak disahkan, Filipina dan Vatikan bakal menjadi dua negara tersisa di dunia yang tidak mengizinkan perceraian.
Romo Vic Uy bangga dengan hal ini.
“Saya lebih suka kalau Filipina menjadi satu-satunya negara di seluruh dunia yang berbeda karena tidak ada perceraian. Saya bakal bangga sekali menjadi orang Filipina yang cinta keluarga, beragama dan takut Tuhan dan hal-hal seperti inilah yang harus dijaga.“
Namun, sejumlah kelompok perempuan mendesak supaya rancangan ini disahkan, dan mengatakan, pada akhirnya akan menang.
Suami dari Estela yang meninggalkanya setelah mendapat anak yang cacat yakin, pada akhirnya orang Filipina bakal mendapatkan hak untuk bercerai.
“Ini akan makan waktu. Karena ini berhadapan dengan budaya yang sudah berjalan selama beberapa abad lalu. Ini akan menjadi masalah nasional, karena setap hari kasus kekerasan perempuan semakin meningkat. Apa tujuan Anda mendebatkan masalah ini dan siapa yang akan diuntungkan? Menurut saya anak-anak di masa depan-lah yang harus merasakan manfaatnya.”











