AsiaCalling

Home Berita Pakistan Pakistan Bersiap Menghadapi Musim Hujan Lagi

Pakistan Bersiap Menghadapi Musim Hujan Lagi

E-mail Cetak PDF

Dua tahun berlalu sejak Pakistan mengalami banjir terburuk dalam sejarah negara itu.

Setahun kemudian, sampai saat ini, banjir kembali merusak negeri itu. Kerusakan itu terjadi cepat dan menghancurkan.

Pemerintah dikritik karena tidak siap dan gagal merespon dengan cukup cepat.

Tahun ini musim hujan tinggal beberapa bulan lagi, lembaga bantuan mempertanyakan apakah pemerintah Pakistan akhirnya belajar dari pengalaman atau tidak.

Kesha West dari Radio Australia menyusun laporannya untuk Anda.

Dua tahun lalu, musim hujan membawa banjir dalam skala yang tidak pernah terjadi di Pakistan.

Seperlima negara itu terendam dan 20 juta orang terkena dampaknya.

“Banjir masuk desa kami dengan cepat. Anak laki-laki ini tidur di kamar sebelah sana. Ayah saya kembali untuk menyelamatkan dia tapi rumah rubuh dan ayah saya luka parah. Orang desa membantu menarik ayah saya keluar dari bawah atap yang rusak, kami mencoba membawa dia ke mobil tapi ia meninggal dunia.”

Tapi penderitaan tidak berakhir di situ.

Masih belum pulih dari bencana 2010, setahun kemudian negara itu dihantam lagi.

Hujan deras menyebabkan banjir baru yang menyapu seluruh Provinsi Sindh di selatan hingga Balujistan.

Kerusakan ini terjadi begitu cepat dan menghancurkan.

“Kami sedang tidur saat air datang. Semua barang kami hancur. Kami berhasil membawa beberapa barang kami di perahu tapi kami menderita kerugian besar.”

Lebih dari enam bulan, lembaga bantuan mengatakan negara itu masih mengalami krisis.

“Situasi di daerah yang terkena dampak banjir masih suram, sebagian besar di Sindh, tapi juga di bagian Balujistan. Walau sebagian besar pengungsi, di awal  minggu dan bulan sesudah banjir sudah pulang. Yang tersisa dari rumah mereka sangat sedikit. Mereka bertemu komunitas yang rumahnya juga hancur atau rusak. Rumah dan barang-barang mereka ikut tersapu banjir.”

Shaheen Chughtal dari Oxfam Humanitarian mengatakan sebagian besar masyarakat masih kekurangan kebutuhan pokok seperti makanan, air dan tempat tinggal.

Dan kekurangan gizi dan penyakit mengancam mereka.

“Dia jatuh sakit karena banjir dan nyamuk. Sumber air jaraknya 16 kilometer dari sini dan kami harus berjalan kaki sejauh itu untuk mengambil air yang aman diminum.”

“Kami sangat prihatin karena ini tahun kedua banjir besar-besaran. Banjir ini seperti skala yang jadi penguji negara kaya atau negara berkembang. Tapi sayangnya Pakistan bukan negara kaya, jadi ini menyebabkan jutaan pria, perempuan dan anak-anak jadi sangat rentan sekarang.”

Dan ada resiko yang sangat nyata kalau banjir yang merusak dua tahun lalu kembali menyerang.

Dalam hanya beberapa bulan mendatang, Pakistan akan menghadapi musim hujan.

“Semua orang benar-benar khawatir. Pengalaman dua tahun terakhir dimana iklim menjadi tidak menentu di wilayah ini. Perkiraan iklim di kedua tahun itu tidak pernah memberitahukan skala bencana seperti itu. Ini melampaui imajinasi kami.”

Naseer Memon, Direktur Eksekutif Masyarakat Sipil Pakistan, SPO, salah satu yang lembaga bantuan lokal yang membantu orang-orang di wilayah selatan Pakistan.

“Butuh waktu beberapa tahun sebelum orang benar-benar direhabilitasi. Dan itu hanya mungkin jika kita berdoa kalau kita tidak menghadapi bencana lain di tahun-tahun mendatang.”

Dalam kebangkitan dari banjir tahun lalu, pemerintah Pakistan dikritik karena gagal belajar dari pengalaman banjir tahun sebelumnya.

Lembaga-lembaga bantuan takut negara itu tidak siap lagi.

Shaheen Chughtal dari Oxfam.

“Sayangnya beberapa dari pelajaran ini diabaikan. Seperti memastikan masyarakat yang rentan lebih kuat dan dilindungi saat menghadapi bencana, memastikan masyarakat punya penghasilan yang layak, mereka punya akses ke informasi, dan punya akses ke sistem peringatan dini. Kita perlu memastikan pengalaman itu dipelajari. Dan sayangnya kita melihat kemajuannya sangat lambat.”

Naseer Memon dari SPO tidak sekeras itu pada pemerintah.

“Kita perlu memahami skala bencana itu benar-benar besar. Pasti tidak akan mudah bagi pemerintah manapun untuk benar-benar mengatasi krisis ini dengan efisien dan efektif.”

Tapi ia mengakui ada banyak hal yang bisa dilakukan dengan lebih baik. Dan masih banyak yang harus dilakukan.

“Ada realisasi dan pemahaman tentang betapa gawatnya situasi ini. Tapi jujur Pakistan adalah negara yang menghadapi tantangan multidimensi, dan bencana alam adalah salah satunya. Dan ada konflik dan pertentangan politik di sisi lain.”

Oxfam menyerukan pemerintah untuk memobilisasi masyarakat dan harus memastikan jika banjir datang lagi, ada respon kemanusiaan yang memadai.

Richard Young dari Oxfam Australia.

“Pesan kuncinya adalah mari kita bekerja sama. Agar masyarakat internasional, pemerintah Pakistan dan komunitas lokal, benar-benar merespon dan mempersiapkan diri lebih cepat.”

Krisis yang terus berlanjut, yang dihadapi rakyat Pakistan tidak boleh ditempatkan sepenuhnya pada kaki pemerintah.

Setelah banjir 2011, Perserikatan Bangsa-Bangsa meminta bantuan hingga Rp 3,2 triliyun.

Tapi bahkan setengahnya tak terkumpul.

Respon yang lamban menyebabkan tekanan berat pada pemberian bantuan.

“Yah ini punya dampak yang besar. Maksud saya 47 persen bantuan telah didapat. Jadi ada kesenjangan yang besar dalam hal itu. Pada dasarnya PBB dan lembaga bantuan menggunakan dana dan persediaan mereka sendiri untuk memenuhi kebutuhan 2,5 juta jiwa ini.”

 

Add comment


Security code
Refresh

                 
  • Siaran Asia Calling Minggu ini

 Cina Bergerak ke Barat, Perhentian Pertama: Chongqing 20 tahun lalu, bekas pemimpin utama Cina, Deng Xiaoping, mengunjungi pantai tenggara negeri itu. Ia mengatakan kepada rakyatnya, juga dunia, bahwa Cina berkomitmen melakukan reformasi ekonomi. Sejak itu, buruh murah, akses pelabuhan yang mudah, dan investasi negara besar-besaran mengubah sejumlah kawasan pantai menjadi pusat industri yang berkembang. Seiring naiknya biaya buruh, Beijing mengalihkan investasinya ke tempat lain: ke daerah Barat yang terpencil. Rebecca Valli mengunjuni Chongqing, kota metropolitan bintang program ‘Go West’.

Terancamnya Hutan Amazon Kamboja: 200 ribu hektar Hutan Prey Lang yang terpencil bisa dibilang sebagai hutan Amazon-nya Kamboja. Hutan itu merupakan rumah bagi masyarakat adat Kouy. “Prey Lang” sendiri artinya “hutan kami”. Tahun lalu, Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen, menyetujui perkebunan karet seluas sembilan ribu hektar, padahal statusnya daerah yang dilindungi. Kesepakatan itu bagian dari inisiatif bisnis bersama antara Kamboja dan Vietnam, yang disebut-sebut bakal memperbaiki kesejahteraan penduduk lokal. Tapi sebuah investigasi baru-baru ini mengungkapkan adanya kesepakatan kotor antara perusahaan dan penduduk desa dan luasnya pembalakan liar di hutan itu. Borin Noun bergabung dengan tim investigasi itu di hutan utuh terbesar di semenanjung Indocina

These stories and much more this week

on Asia Calling:

Your Window on Asia