
Download Bisakah Anda membayangkan menyelam ke dasar laut, bernafas hanya lewat selang yang disambungkan ke mesin kompresor, yang biasanya dipakai untuk mengisi angin pada ban?
Penambang pasir timah di Pulau Bangka, di barat Indonesia, bisa.
Mereka menyelam sampai lebih 10 meter ke dasar laut hanya dengan perlengkapan ini.
Pulau ini kaya timah dan menjadi satu-satunya sumber timah di Indonesia.
Pebriansyah Ariefana mencari tahu bagaimana para penambang timah ini mencari nafkah.
Mahdi, 40 tahun, berdiri di sebuah lembaran papan yang mengapung di atas tong. Dia menyalakan mesin penyelamnya.Ini adalah sebuah kompresor yang biasanya dipakai untuk mengisi angin pada ban. Tapi dia menggunakannya untuk bernafas di dalam laut.
Kata Mahdi, tidak ada alat pengatur besar kecilnya aliran udara yang masuk ke paru-paru para penyelam.
Mereka mengatur udara yang masuk dengan menarik selang dari mulut.
Mahdi adalah satu dari 30 ribu penambang timah bawah laut yang ilegal di Pulau Bangka.
Dia menyelam sampai lebih dua meter di bawah laut, dan menggunakan mesin penyedot untuk menghisap pasir dari dasar laut ke sebuah ember yang ada di atas papan apung.
Seorang lainnya lantas menyerok pasir untuk mencari timah di dalamnya.
“Kita juga pakai kaca penyelam. Ini dia...“
Udara yang keluar dari kompresor adalah monodioksida, bukan oksigen.
“Setelah dipasang selang ke kompresor, anginnya keluar dari sini. Ini memang tidak seperti alat penyelam yang dimiliki tentara. Setelah dicek dan semuanya ok, baru kita menyelam.”
Para penyelam bisa berada di bawah air selama berjam-jam.
“Bisa sampai tiga jam, empat jam, tergantung orangnya. Kalau dia bisa tahan dingin untuk waktu yang lama, bisa lama, tapi kalau nggak, mereka hanya bisa tahan dua jam, lalu istirahat.”
Dia tahu kalau ini berbahaya.
“Penambang baru bisa merasakan sakit di telinga. Rasanya seperti ada yang menekan, sakit sekali. Kalau itu terjadi, mereka tinggal telan ludah, lalu bernafas lewat hidung. Kalau dia sakit, flu atau tidak enak badan, sebaiknya tidak memaksakan diri menyelam, karena bisa nanti bisa keluar darah dari hidung.”
Hendra Kusumajaya adalah Kepala Dinas Kesehatan setempat. Kata dia, para penambang bisa sakit parah.
“Ada berapa kasus itu tertimbun tanah? Longsor tanahnya. Jadi membahayakan. Asik menyemprot yang di bawah, tiba-tiba yang di atas runtuh, ditimbun. Jadi menggali lobang kuburannya sendiri. Sebenarnya membahayakan dirinya sendiri.”
Warga setempat mengatakan, hampir setiap hari ada saja penambang liar timah yang tewas.
Mahdi tahu kalau apa yang dia lakukan itu ilegal tapi ia membutuhkan uangnya untuk menghidupi istri dan dua anaknya.
“Kami kerja di sini meski orang bilang ini ilegal. Nah, mari kita bicarakan. Kerja di kapal ini seperti nikah siri. Menurut agama, ini legal, tapi pemerintah bilang ini ilegal. Menurut agama kan kita harus cari uang untuk hidup, jadi uang ini legal. Tapi pemerintah bilang lain lagi. Kami tidak boleh melakukan ini, tapi kami kan nggak nyolong.”
Tapi kapal Mahdi bukanlah satu-satunya.
Setiap dua meter, ada kapal lainnya yang berisi penambang, melakukan hal yang sama.
Dari udara, air laut yang dekat pantai terlihat keruh. Lantas 500 meter dari pantai, ada garis jelas yang memisahkannya, lalu seketika air laut berubah warnanya menjadi biru jernih.
Air laut menjadi keruh karena dasar laut yang berpasir disedot oleh para penambang liar.
Berry Nahdian Forqan adalah Direktur WALHI Indonesia.
“Partikel di laut ini mempengaruhi kehidupan di dalam air. Kita lihat saja airnya jadi keruh begitu, ikan kan bernafas lewat insang. Akan butuh waktu yang lama sekali bagi lingkungan ini untuk kembali normal.”
Tapi aktivis di kantor lokal WALHI di Pulau Bangka mengatakan, kampanye menghentikan penambangan liar di sana tak berjalan lancar.
Ketua WALHI Bangka, Ranto Uday.
“Ketika kami teriak 'Stop Penambangan Laut', kami seringkali harus berhadapan dengan warga yang minta kami berhenti melakukan ini. Ini mengganggu. Di satu sisi, kami harus menyadarkan warga yang tinggal di tepi pantai. Tapi di sisi lain, warga juga menambang. Ini adalah dilema yang kami hadapi. Kami harap kami bisa membuat warga sadar sebelum timah dan ikan semuanya habis. Apa yang bisa mereka lakukan kalau itu terjadi?"
Sekarang pukul 5.30 sore, Mahdi dan timnya kembali menuju pantai.
Hari ini mereka berhasil mengumpulkan lima kilogram pasir penuh timah. Mereka akan menjual ini kepada cukong, yang lantas menjualnya lagi ke perusahaan negara, PT Timah.
Mereka mendapatkan sekitar Rp 70 ribu per kilogram.
Di sebuah kedai kopi kecil di tepi pantai, penambang timah bernama Samsiar mengatakan, ini memang pekerjaan yang beresiko, tapi menghasilkan uang yang cukup banyak.
Dia sudah jadi penambang timah selama delapan tahun dan akan terus melakukannya.
“Saya lebih baik jadi penambang ketimbang pekerjaan-pekerjaan sebelumnya. Saya dulu kerja serabutan, dan kini anak-anak saya makin besar. Kadang saya kerja, kadang menganggur. Kalau saya kerja sebagai supir, berapa banyak uang yang bisa saya dapat? Saya mungkin bisa dapatkan 30 ribu per hari, tapi apa itu cukup untuk beli makanan di Bangka? Sejak saya jadi penambang, hidup saya berubah. Dulu saya hanya punya rumah dari kayu, tapi sekarang saya bisa bikin rumah dari beton.”










