AsiaCalling

Home Berita Indonesia Perempuan Indonesia dengan 25 Anak

Perempuan Indonesia dengan 25 Anak

E-mail Cetak PDF

Download Dunia menantikan penduduk yang ke-7 miliar bulan depan.

Indonesia memiliki sumbangan yang besar, sebagai negara dengan penduduk ke-4 terbanyak di dunia.

Eros dan Asep dari Plered, Jawa Barat, kemungkinan jadi keluarga paling besar di Indonesia, dengan total 25 anak yang mereka punya.

Tidak ada yang kembar dua, tiga atau empat, Eros melahirkan semua anaknya secara alami.

Sebagian besar anaknya lahir di saat Indonesia sedang gencar-gencarnya berkampanye soal keluarga berencana.

Kenapa mereka bisa punya anak sebanyak itu?

Citra Prastuti menghabiskan sehari di Plered bersama Eros dan Asep, keluarga dengan 25 anak.


Mak Eros adalah penjual kue tradisional di Plered, Jawa Barat, Indonesia.

Dia sudah berjualan lebih 30 tahun.

Sebagai ibu dari 25 anak, Eros menjadi selebritis lokal di desanya.

Dia berjualan sambil berjalan kaki, sejauh 20 kilometer setiap hari...membawa dua keranjang dengan beban total 30 kilogram.

Asep, suaminya, hanya menyumbang 1/5 pendapatan keluarga.

“Nama saya Asep Sumarna. Pekerjaan saya ngebecak. Satu hari saya paling dapat 10 ribu. Kalau ada, kalau nggak ada mah cuma 5 ribu per hari.”

Semula Asep hanya ingin punya tiga anak.

Sekarang dengan 25 anak yang mereka punya, dia tak bisa ingat semua nama anak-anaknya.

“Ilah, Dudi, Cucep,...Agus, Oman...Nur, Yeyet...Elih, Ilah, Tosin, Tatang..."

Hanya Eros yang ingat semuanya.

“Muhammad, Nining, Lomrah, Sopiah, Bisriyah, Nani, Ilah, Elih, Ujang, Cucep, Agus, Oman, Nur, Ula, Yeyet, Tosin, Tati, Omah, Agus, Dudi.”

Eros dan Asep sudah menikah lebih 40 tahun. Ini adalah pernikahan kedua bagi keduanya.

Dari pernikahan pertama, Eros punya lima anak. Dengan Asep, dia punya 20 anak.

Total, mereka punya 25 anak, tujuh sudah meninggal dunia. Keluarga ini ekstra besar, dibandingkan keluarga-keluarga lainnya di Indonesia.

Mereka menikah sekitar tahun 1970-an – di saat yang sama Pemerintah Indonesia meluncurkan kampanye keluarga berencana secara nasional.

“Saya tidur sama Bapak...saya takut Gusti Allah. Punya ganjaran gitu. Mau punya ganjaran. Mau punya ganjaran atau siksaan? Punya ganjaran. “Nih, tidur sama Bapak kalau mau punya ganjaran...” Takut dosa. Takut punya ganjaran, takut punya dosa. Makanya tidur sama Bapak. Takut sama Gusti Allah. Nggak mau disiksa...mau ke surga!" kata Eros seraya tertawa.

Eros akhirnya mencoba alat kontrasepsi.

Meskipun Asep setuju, dia tak melakukan apa pun untuk berhenti punya anak.

Mula-mula Eros mencoba suntik KB, lantas pil.

“Saya ikut KB, nggak cocok, jadi nambah-nambah sakit. Jadi berdarah terus terusan, ke rumah sakit nggak punya uang, anak-anak nggak ada yang ngurus...Ya sudah istirahat ikut KB. Alhamdulillah sembuh...hamil lagi...(tertawa) Istirahat melahirkannya tiga bulan. Bayi tiga bulan, hamil lagi.”

Ketika mereka punya 18 anak, Eros mau bercerai dari suaminya.

“Nggak mau, bapak nggak mau. Bapak nggak tanggung jawab. Kawinnya anak-anak, saya! Sekolahnya, saya! Lebaran, yang beli kain-kain, saya! Bapaknya...galak...galak...Takut mukul...(Ibu suka dipukul bapak?)...Kalau di rumah nggak ada makanan...kan nggak ada uangnya untuk beli...marah...Galak bapaknya...Saya kan capek ngurusin anak yang kecil-kecil, bapaknya gak keurus...Bapaknya marah...Mukul...cepret cepret...saya takut, saya mau dicerai...tapi nggak mau dicerai...sampai saya menangis...ini darah, saya mau cerai...”

Sembari menunggu penumpang becak, Asep menjelaskan kenapa dia memukul Eros.

“Itu satu hari saya nggak dapat uang. Emak tanya, ”Kenapa gak dapat uang?” Kata saya, nggak ada muatannya. Kalau ada kan biasanya dapat uang. Saya pusing, kelewatan pusing kan mukul. Cuma satu kali belum pernah lagi. Mukulnya nggak keras-keras, cuma mukul doang sedikit. Cuma pusing sekali. Puyeng, capek, uang nggak dapat, di rumah emak ngomel, anak nangis, saya belum makan...saya jadi pusing. Pukul saya sedikit. Saya sesudah mukul...saya mengeluarkan air mata.. Kasihan sama Emak.”

Kehidupan pernikahan terus berlanjut bagi Eros dan Asep.

Setelah anak ke-18, datang anak ke-19, ke-20, sampai anak ke-25 yang lahir ketika Eros berusia 50 tahun. Bayinya meninggal ketika baru berusia tiga bulan.

“Kekurangan makan...Panas, kekurangan gizi, kurang sayur-sayuran. (Ibu rasanya gimana anaknya meninggal karena kekurangan makan?) Sedih...mereka kelaparan dulu...segala mahal...jaman krisis. Masa jaman dulu itu...krisis...Jaman presiden apa ya jaman krisis? Su... Suharto?”

Ada pepatah lama di Indonesia: banyak anak, banyak rezeki.

Keluarga Eros dan Asep semula hidup di sebuah rumah satu kamar berlantai tanah, dengan seluruh 25 anak mereka.

Tapi kini kehidupan sudah berubah...secara dramatis.

Setelah tampil beberapa kali di TV, mereka mulai mendapatkan sumbangan. Kini mereka bisa membangun rumah dengan tiga kamar berdinding bata.

“Hamil lagi hamil lagi...udah biarin saja, banyak anak banyak rezeki! (tertawa) Alhamdulillah, ada TV banyak anak ngasih uang..”

Dari seluruh 25 anak mereka, 7 meninggal dunia. Sebagian besar sudah beranjak dewasa dan pergi dari rumah, bekerja di kota-kota lain. Tapi Eros dan Asep masih harus terus bekerja, untuk memberi makan tiga sampai empat anaknya yang tinggal di rumah. Juga seorang cucu perempuan.

Anak-anak mereka memetik pelajaran dari kehidupan orangtua.

Ilah, yang rumahnya di sebelah rumah Eros, hanya punya dua anak.

“Sengaja KB ah.. takut kayak Emak punya banyak anak...susah. Susah jajannya, kalau mau makan harus cari uang dulu...Kalau anaknya cuma dua kan nggak terlalu berat...Kan sekolahnya mau tinggi, kan ibunya sampai kelas enam masa anaknya sampai kelas enam juga...kan harus ada peningkatan (tertawa).”

Fajar, anak Ilah, sangat bersemangat bersekolah.

“Soalnya dia kalau sekolahnya cepet gitu...Saya salut sama dia...”

Q. Mau jadi apa nanti?

“Presiden....” sahut Fajar, yang disambut gembira ibunya.

Eros sekarang berusia 57 tahun, Asep 67 tahun.

Mereka bertekad berhenti punya anak.

“Nggak mau...kalau mobil, udah doyok...Jangan nambah lagi...udah tua," tandas Asep.

“Ah jangan-jangan...Ntar kalau dipercaya, boleeh...Kalau enggak, gapapa...Kalau dipercaya Gusti Allah, disuruh hamil lagi...boleeh...” begitu Eros menyergah.

“Udah lelah cari uangnya...bukan lelah apa-apanya. Saya udah lelah cari buat makannya. Saya yang dipakai beban itu bukan makannya, tapi ngedidiknya.”

“Udah capek...kalau hamil lagi, nol lagi, nol lagi gitu. Kan udah doyok...udah keor gitu secara kendaraan...wah udah turun mesin!" kata Eros seraya tertawa.

“Udah berhenti sekarang lah...udah tua...”

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 26 September 2011 14:15 )  

Add comment


Security code
Refresh