
Download Presiden Amerika Serikat Barack Obama pernah memuji Indonesia karena semangat toleransinya.
Namun, beberapa tahun belakangan ini, kekerasan terkait agama kian meningkat, terutama serangan ke berbagai gereja yang dilakukan oleh kelompok garis keras Islam.
Alasannya biasanya karena gereja-gereja itu tidak punya izin pembangunan atau tidak diterima oleh masyarakat setempat yang mayoritas Muslim.
Tapi sebuah penelitian baru-baru ini mengungkap, sejumlah tokoh berkuasa-lah yang sering mendalangi sengketa seperti itu.
Di tengah suasana yang tidak toleran seperti itu, Gereja St. Mikael menjadi satu pengecualian.
Arin Swandari melaporkan dari gereja itu di Bekasi, Jawa Barat, yang dikelilingi dengan mushala.
Sekarang Minggu pagi di Gereja St. Mikael.
Samar-samar terdengar lagu rohani Muslim terdengar dari mushala.
Di luar gereja, sejumlah pemuda setempat, menjaga gereja dan mengatur parkir mobil jemaat yang akan mengikuti misa Minggu.
Suasana harmonis ini tidak terjadi sekejap.
Pasalnya pada 2005 ketika gereja direnovasi, kedua umat beragama ini saling curiga.
Krisantono adalah Ketua Pembangunan Gereja.
“Di kita sendiri kita harus akui ada anggapan-anggapan yang keliru terhadap sodara-sodara kita, ada generalisasi. Misalnya ada yang tidak senang, ya pada orang Kristiani atau Katolik, dianggap semua orang Islam tidak seneng, itulah yang menghantui ataupun mempengaruhi benak sementara umat kita. Nah kita sudah katakan, Tidak! Islam ini sendiri mengajarkan sesuatu yang damai. Jadi mispersepsi inilah yang menyebabkannya. Lalu kedua ada juga anggapan salah bahwa mereka yang mempersulit hanya minta uang, jadi kalau kita punya uang beres. Ini kalau menurut saya salah sama sekali.“
Ketua RW setempat Supriyono mengakui, tak semuanya mendukung pembangunan gereja di wilayah itu.
”Namun karena RT yang lain setuju, mereka harus mengikuti kan. Masalah keyakinan kan masing-masing kan, bisa diselesaikan. Ini bagian dari lingkungan kita bagian dari wilayah kita. Nggak ada kok, larangan waktu renovasi ini. Persetujuan ini tak ada yang perlu kita ragukan lagi.”
Kerjasama yang damai ini dipelopori oleh bekas ketua RW Basyuni.
“Nabi Muhamad itu sudah menciptakan kerukunan umat bergama. Jadi kalau mau selamat ya ikuti jejak nabi. Saya bilang, jangan mengikuti organisasi Islam yang beraliran keras. Itu tidak diajarkan oleh Nabi Muhamad SAW. Jadi Nabi Muhamad waktu hijrah, dari Mekah ke Madinah, yang mengantar itu umat Kristiani. Jadi Zaman Nabi Muhamad itu sudah rukun, kenapa kita nggak?”
Krisantono, kepala pembangunan gereja menuturkan, mereka belajar untuk lebih terbuka dan saling percaya.
“Dengan dasar itu maka kita mawas diri atas kekurangan kita, dan memperbaiki. Dan teman-teman harus kompak. Dan kita mengadakan pendekatan ulang, dengan cara lebih baik, mau bergaul dengan pak RT, Pak RW, Karang Taruna dan sebagainya. Dengan Pak Ustadz kita silaturahmi, padahal dulu agak alot setelah ada pendekatan baik, semua cair.”
Mushala setempat juga mengubah cara dakwah mereka.
“Ya kesejukan dan kedamaian saja kita ceramahnya, jadi tidak provokasi kita. Malah kalau rapat-rapat berpesan, jangan mengikuti organisasi Islam yang radikal, kalau mau selamat dunia akhirat. Ikuti Nabi Muhamad, saya bilang begitu. Nabi Muhamad itu kan mengajarkan kebaikan. Tak ada Nabi Muhamad menyuruh menyerang gereja, menyerang vihara, tak ada. Bukan ada menghancurkan tokoh-tokoh, pakai jubah, kan kita malu."
Pada awal tahun ini, Yayasan Paramadina melakukan survei acak pada 13 gereja Katolik dan Protestan di Jakarta.
Dari seluruh gereja itu 12 diantaranya mengalami masalah dalam proses pembangunannya.
Peneliti Nathanael Sumaktoyo mengatakan, hubungan antar pribadi yang baik merupakan kunci untuk mengatasi ketegangan.
”Ada satu cerita di Santo Mikael Kranji. Dia itu termasuk satu penentang, terus coba didekati gereja, dengan silaturahmi, datang bawa kue bawa apa, tapi kok tidak pengaruh. Terus secara kebetulan, cucu si ustadz main ke gereja dan bilang suka sama nugget. Jadi ketika mereka datang berikut bukan bawaain buat si ustad tapi bawa nugget buat cucunya. Ternyata pendekatan seperti yang lebih berguna, karena si ustad merasa, kok pihak gereja perhatian banget sama cucu saya. Sejak itu, dia menjadi salah satu pembela geraja yang paling keras.”
Ia menambahkan pemerintah juga berperan penting.
“Yang jelas harus ada adalah pemerintahnya. Kalau semua prosedur sudah dipenuhi, seharusnya pemerintah tidak ada alasan untuk menghambat, tugasnya melindungi. Baru setelah pemerintah, gereja wajib mendekati warga. Gerejanya sendiri harus terbuka, tidak boleh eksklusif. Kalau contohnya di Mikael itu, nanti tiap bulan diingetin. Kalau masuk gereja, kaca jendela mobil harus dibuka, as simple as that.“
Warga lokal Maria dan Suhartini senang sekali dengan keharmonisa di daerah mereka.
Mereka bisa berdoa berdampingan menurut kepercayaan mereka masing-masing.
“Rukun sih dari depan, kalau kita masuk mereka sudah kenal kita-kita, sangat kenal sih. Kita merangkul.”
“Kalau ada acara mereka datang, terus juga pernah juga Karang Taruna menyumbang lagu-lagu, puisi, tarian, waktu pemberkatan gereja. Mereka ikut berperan serta Pak RT dan Pak RW.”










