
Download Pekan ini pemerintah Indonesia memperingatkan kemungkinan terjadinya kelaparan di seluruh dunia, karena perubahan iklim dan jumlah penduduk dunia yang kian bertambah banyak.
Komentar ini dilontarkan pada Konferensi Internasional Tingkat Menteri seputar keamanan makanan di Bali.
Seperti yang dilaporkan Esther De Jong, harga makanan telah melonjak dalam beberapa bulan belakangan ini.
Sekarang sudah pukul 8 pagi di salah satu pasar tradisional terbesar di Jakarta.
Ani, ibu rumah tangga, sudah datang pagi-pagi dan menawar harga bahan makanan supaya dapat harga yang lebih murah.
Tapi hari ini bukan hari yang baik untuk ibu Ani.
Ia mengatakan semua harga barang-barang terlalu mahal dan ia belanja lebih sedikit dari biasanya, khususnya cabai.
”Karena di rumah doyan pedes semua. Iya sih kalau kurang cabai kurang makannya sih. Nomor satu kayaknya selera makan.”
Suharno salah satu pedagang di pasar itu mengatakan kenaikan harga kali ini tergolong yang paling tinggi dalam sepuluh tahun terakhir.
“Hampir semua. Makanya, gimana cabai kok mahal banget? Ya marah sih nggak, tapi merasa kayak kecewa, kayak merasa kurang puas. Ya lesu, ya berkurang gitu, kayak penjualannya berkurang. Umpama biasanya sepuluh kilo abis, paling abis lima kilo, empat kilo. Ya mau nggak mau. Emang kalau jualan seperti ini, ya terpaksa begini gitu.”
Harga beras dan kacang kedelai telah meningkat hingga lima belas persen beberapa bulan belakangan ini.
Inflasi Indonesia mencapai tingkat yang lebih tinggi ketimbang perkiraan sehingga Bank Indonesia meningkatkan tingkat suku bunga, sebagai upaya untuk meredam kenaikan harga.
Industri perikanan juga mengalami kesulitan dengan pola cuaca yang tidak teratur.
Di Marunda, satu desa nelayan di pesisir Jakarta, Ika gadis berusia 8 tahun, sedang jongkok membuka kulit kerang dengan pisau.
Neneknya, Habibah berdiri disebelahnya.
“Ini lagi ngupas kerang. Pagi-pagi karena dia nggak sekolah, jadi pagi-pagi tuh ada kerang seember. Jadi biasanya ibu-ibu di sini banyak ngupas kerang. Jadi sekarang katanya jangan nyuruh orang nek, Ika aja deh Nek yang ngupas. Ika gak sekolah katanya gak ada duitnya buat ongkos. Jadi udah...ongkos ongkos ya kerang.”
Para nelayan di sini sudah tidak melaut selama empat bulan, karena ombak yang terlalu besar dan angin yang terlalu kencang.
Penghasilan mereka menurun lebih dari seperempat dari biasanya dalam dua belas bulan terakhir.
Angin bertiup melalui rumah Tiarom, nelayan setempat.
Keluarganya, yang terdiri dari enam orang tidur dalam satu kamar. Mereka mengalami masa yang sulit.
“Cuaca ekstrim sekarang bukan hanya mengubah bagaimana kita tidak bisa memprediksi angin dan gelombang, tetapi juga itu secara langsung akan mengubah arus laut. Karena jenis ikan yang kami tangkap itu dia sangat berpengarah kepada arus laut itu sendiri. Itu artinya wilayah tempat penangkapan kami, yang kami anggap disitu adalah tempat berkumpulnya ikan yang kami ingin tangkap, itu justru tidak ada ikan. Itu artinya bukan hanya ada perubahan terhadap angin gelombang tapi arus laut. Kami harus dari nol lagi, nggak tahu itu bisa kami lakukan atau tidak, yang jelas dengan kami paksakan dengan cuaca ini kami melaut, otomatis kami akan tahu perubahan apa saja yang terjadi. Dan ilmu yang dulu diturunkan dari kakek saya terpaksa tidak (dipakai lagi). Artinya itu yang terjadi sekarang ini.”
Ia sudah menjadi nelayan sejak berumur sepuluh tahun. Kini penghasilannya tak sampai 450 ribu rupiah per bulan.
“Ketika orangtua kami dulu bercerita, ketika saya masih kecil, karena dulu saja di Teluk Jakarta itu yang namanya pohon mangrove, bentangan mangrove mulai dari timur Jakarta sampai barat Jakarta. Dari situ kami mengukurnya, kenapa dulu begitu banyak, mengapa pohon mangrove jadi banyak. Menangkap ikan saja kami tidak perlu alat tangkap, kami hanya memakai tangan, dan mendapatkan udang. Itu berarti, ketika pohon mangrove tidak ada, hilang dan pencemaran di Teluk Jakarta mulai terjadi, biota laut semuanya hilang, ada beberapa jenis kerang yang sudah punah di Teluk Jakarta, kami mengukurnya dari situ. Bahwa dari Teluk Jakarta saja, pohon mangrove itu saja sudah tidak ada, perubahan besar sudah terjadi. Bagaimana kalau daerah lain mengikuti kondisi yang ada di Teluk Jakarta? Pohon mangrove hilang, ditebang, kena abrasi, tidak ada tanggul laut, terus tanggul laut pasir itu digali pasirnya, diambil, kami-kami menduganya hanya itu. Bukan marah lagi saya sangat emosi.”
Untuk mengurangi beban mereka, pemerintah Indonesia menyatakan telah memberikan dana pengembangan sebanyak 60 juta dolar Amerika atau lebih 500 milyar rupiah kepada sejumlah pemerintah regional untuk membantu para nelayan dan keluarga mereka.
Namun, Tiarom tak menerima bantuan itu.
Dan Bruce Wallner dari Kedutaan Australia juga mengkritik inisiatif seperti itu.
“Kalau pemerintah menawarkan subsidi untuk kelompok produsen utama manapun, itu memang bagus, tapi menurut saya masih bisa diperdebatkan. Badan Pangan Dunia (FAO) dan badan lainnya ingin sekali mengurangi dan menghilangkan subsidi dalam sektor perikanan, karena bukan saja produksinya cenderung tidak efisien tapi malah mengarah pada pemancingan yang berlebihan. Dan ada satu kekhawatiran global soal persediaan ikan. Menurut saya, Indonesia beruntung bisa punya lautan yang luas dan karena Indonesia adalah negara yang sangat maritim dengan banyak ikan, maka Indonesia harus hati-hati soal eksploitasi ikan berlebihan. Sudah ada tanda yang jelas kalau Indonesia memang sudah mengeksploitasi persediaan ikan secara berlebihan.”
Salah satu masukan presiden lainnya adalah supaya masyarakat menanam bahan makanan mereka sendiri, khususnya cabai.
Bruce Wallner dari kedutaan Australia suka gagasan ini.
“Mungkin ini bukan gagasan yang buruk karena cabai bisa tumbuh dalam skala kecil, dan biasanya butuh banyak untuk masakan. Jadi kalau ditumbuhkan di satu pot di atas balkon, mungkin ini bisa jadi satu alternatif. Kalau Anda pikirkan komoditas skala besar seperti beras, gandum, dan kedelai, masyarakat tidak bisa menanam dan menumbuhkan komoditas seperti ini. Jadi meski ide presiden untuk menumbuhkan cabai adalah ide yang bagus, menurut saya ini bukan solusi umum untuk segala komoditas makanan.”
Kembali ke pasar tradisional di Jakarta, Nuryani 52 tahun, sedang menggoreng ikan.
Sebagai tukang masak di salah satu restoran di pasar, ia menggunakan banyak cabai, tapi karena kenaikan harga yang terjadi baru-baru ini, ia melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.
“Mahal ya, bagaimana kita pandai-pandai mensiasatinyalah. Ya dikurang-kurangin, ditambahin tomatnya dikit, supaya jangan cabainya banyak. Harganya kan gak bisa naik, tetap biasa. Cara menyajikannyalah dikurang-kurang sedikit, dengan pembeli.”
Para pelanggannya mungkin tidak mengeluh, tapi Nuryani kesulitan mengurangi penggunaan lada.
“Di Indonesia kalau gak ada cabai ya gimana? Ya kita dagang ya bagaimana ininya nantilah, ya terpaksalah. Kalau memang gak ada ya bagaimana ya? Kalau warung Padang gak ada cabai ya gak afdol, warung padang warteg jadinya. Bagaimana juga mahalnya, ya kita masih bisa, kita harus naikin kan. Gak ada cabai ya Padang identik dengan sambal, cabai ijo, sambal merah, identiknya harus ada cabai.“










