Pemerintah Burma menghabiskan empat persen anggaran tahun ini untuk pendidikan, naik dua kali lipat dari tahun lalu.
Tapi ini masih di bawah standar PBB yang merekomendasikan enam persen dari Produk Nasional Bruto dialokasikan untuk pendidikan.
Pendanaan pendidikan Burma yang minim menjadi alasan mengapa lebih dari 50 persen anak-anak Burma tidak menyelesaikan kelas 4 SD pada tahun 2009.
Terjebak dalam berbagai kamp pengungsi, para anak muda Burma khawatir dengan masa depan mereka.
Banyar Kong Janoi mengunjungi satu kamp pengungsi di perbatasan Thailand-Burma untuk mencari tahu keadaan sebenarnya di negeri itu.
Acara ini diadakan di satu kamp pengunsi di Mae Hong Son di perbatasan Thailand-Burma.
Mereka menyanyikan lagu tentang perlindungan budaya dan warisan nenek moyang mereka.
Joseph Nor merasa beruntung bisa menyelesaikan pendidikan kejuruannya di dalam kamp.
“Para tentara Burma selalu datang ke desa-desa dan mencari buruh. Mereka mengambil semua orang termasuk para murid, jadi saya harus sembunyi ketika masih sekolah di Burma. Saya biasanya tidur di sawah untuk menghindari mereka. Saya beruntung karena bisa menyelesaikan SMU dalam kamp ini, tapi saya tidak bisa meneruskan pendidikan saya setelah itu.”
Hampir empat ribu anak belajar di dalam kamp pengungsi ini karena gejolak politik yang terjadi di dalam negeri.
Kamp ini punya lebih dari 10 sekolah, dari SD sampai sekolah lanjutan SMU dan menerima 100 pelajar sekolah lanjutan setiap tahunnya.
Myar Reh kepala sekolah lanjutan SMU, mengajarkan materi soal hak asasi manusia dan penyadaran lingkungan.
“Kami ingin meningkatkan kehidupan orang, khususnya mereka yang hak-haknya dirampas. Kami melatih mereka soal lingkungan, ini bagus untuk negeri kami ketika mereka kembali ke Burma. Kami juga memberikan mereka pelatihan politik demi masa depan masyarakat demokratis di negeri itu.”
Sekolah-sekolah itu punya kursi terbatas dan ini tidak cukup untuk semua anak-anak di kamp.
Sementara itu lembaga donor internasional mengurangi anggaran mereka, sehingga sekolah menghadapi masalah keuangan.
Departemen yang bertanggung jawab soal ini bagi pengungsi Karen mengaku menerima 20 persen lebih sedikit tahun ini.
Shwe Htoon adalah sang direktur.
“Ketika keadaaan politik dalam Burma berubah dan krisis keuangan melanda Eropa, minta para pedonor untuk membantu kami tergolong rendah. Ini berdampak pada kami semua.”
Lo Reh Shan, 29 tahun, sudah menghabiskan hampir seluruh hidupnya di pengungsian. Dia belum pernah sekolah.
“Saya belum pernah mendapatkan pendidikan formal di sekolah sepanjang hidup saya. Kami selalu bersembunyi dari para tentara Burma, berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Saya sempat berpikir untuk masuk sekolah pengungsi lagi, tapi kami tidak punya saudara sama sekali di sini yang bisa merawat kami. Ini tidak mudah untuk kami.”
Matiyalay tahun adalah lulusan SMU dan Ketua Perhimpunan Nasional Pelajar Karen.
Ia mengatakan Perhimpunan ini berjuang untuk hak-hak lebih besar para pelajar di kamp ini.
“Karena kami hidup sebagai pengungsi dan sebagai orang tanpa kewarganegaraan, kami tidak berpikir untuk masuk universitas karena kami tidak punya dokumen perjalanan jadi kesempatan kami sangat langka. Ada banyak pelajar yang memenuhi syarat untuk belajar di universitas, tapi mereka mengalami banyak hambatan untuk mewujudkan hal itu. Banyak orang muda yang ingin mencari jalan supaya bisa mendapatkan pendidikan, tapi waktu mereka tidak melihat titik terangnya, mereka akhirnya menggunakan narkoba atau jadi pecandu narkoba. Atau mereka menikah muda dan ini punya dampak yang besar.”
Setelah bermain bola voli, Josepn Nor, 23 tahun berbagi visi masa depannya.
“Setelah saya selesai sekolah saya akan mengajar, tapi sebetulnya saya tidak terlalu suka mengajar. Saya ingin masuk politik karena saya ingin membantu orang.”










