AsiaCalling

Home Berita Bangladesh Perempuan Bangladesh Mempopulerkan Lagu Pedesaan

Perempuan Bangladesh Mempopulerkan Lagu Pedesaan

E-mail Cetak PDF

Download Lagu ini dibawakan salah satu band anak muda ternama di Bangladesh, Bangla.

Berbeda dengan band lain, Bangla membawakan jenis lagu tradisional Bangladesh, Baul.

Musik Baul ini biasanya dibawakan kelompok pemusik keliling di desa-desa.

Lagu-lagunya biasanya bertema mistik keagamaan.

Ini karena musik Baul dipengaruhi oleh agama Hindu dan Islam.

Anushe Anadil, vokalis grup itu dibesarkan dalam keluarga yang didominasi budaya Bengali kelas atas.

David Bergman bertanya padanya bagaimana akhirnya dia sampai menyanyikan lagu-lagu pedesaan.

 


“Saat kecil saya menyadari ada dua budaya yang hidup di Bangladesh. Satu budaya pedesaan yang masih alami dan punya keindahan tersendiri. Yang lain adalah budaya perkotaan yang halus. Kedua budaya ini menurut saya tidak benar-benar terkait satu sama lain. Kami tidak mengerti mereka dan mereka tidak mengerti kami. Jadi, ini merupakan dua budaya terpisah yang hidup di negeri ini. Sehingga jelas ada perbedaan. Ini yang saya pikirkan sebagai anak yang sedang tumbuh.”

Ini adalah perbedaan yang Anushe coba jembatani melalui musiknya.

Musiknya mempopulerkan lagu-lagu penyanyi mistik pedesaan Bengali, yang disebut Baul.

“Satu hal yang membuat saya tertarik pada Baul adalah kealamiahannya. Saat itu saya mendengar Kangalini Sufyan. Usia saya baru 12 atau 13 tahun. Saya ingat nyanyiaannya. Saat menyanyi, ia seperti berubah, dan sesuatu yang lain keluar dari dirinya. Bukan seperti dia yang sesungguhnya. Saya tumbuh dan besar sambil mendengarkan artis hebat seperti dia, yang punya suara halus dan nada yang sempurna. Saya tidak pernah mendengar lagu mengeluarkan roh seperti itu. Menurut saya, itulah yang saya cari dari Baul. Saya ingin mencari roh itu. Saya ingin roh itu ada dalam diri saya dan bersinar melalui saya.”

Bagi Anushe, musik Baul harus menjadi sumber kebanggaan nasional.

“Generasi terdahulu tidak menemukan kebanggan dari negeri ini. Tapi untuk menemukan harta karun tersembunyi di Bangladesh ini, merupakan keajaiban dan perubahan total bagi saya. Dengan semua kemacetan lalu lintas, korupsi, dan omong kosong yang berlangsung di negara ini, masih ada keajaiban mutlak itu.”

“Setiap kali Anda melangkah keluar dari Dhaka dan menyanyi, Anda melihat semua orang yang kita sebut mullah, dengan jenggot dan kita sebut ekstrimis, menari ketika saya menyanyi. Jadi bagi saya inilah Bangladesh bukan Bangladesh yang digambarkan dunia. Mereka ingin kita tetap menjadi negara terbelakang dengan sikap negatif berlebihan. Jadi menurut saya, kita harus menghapus semua hal negatif itu dan menampilkan sisi positif.”

Gerakan Baul mencerminkan warisan panjang ajaran kebatinan melalui lagu-lagu dalam bahasa Bengal.

Lagu-lagu ini mencapai puncaknya pada abad 19 dan awal abad 20. Tapi kini jumlah penyanyi Baul sebenarnya tinggal sedikit, walau musiknya menyebar luas.

Filosofi Baul berbaur bersama aspek lainnya seperti Hindu, Budha dan Islam.

“Filosofi utama yang merupakan hal terpenting adalah berada di masa sekarang dan mengenal tubuh saya. Tubuh saya seperti proyektor yang memproyeksikan gambar ini ke seluruh dunia dan saya lihat setiap saat. Ketika Anda sadar akan tubuh Anda, maka Anda akan sadar pada alam semesta. Itulah filosofi Baul. Tidak ada hal ilahi yang sangat besar di sana. Walau pun ada, bukan dalam kesadaran Anda. Ini tentang membebaskan diri dari perbudakan mental seperti yang Bob Marley katakan. Setiap revolusi bukan di luar, tapi dalam pikiran saya.”

“Ada sebuah lagu yang terjemahannya mirip Imaginenya John Lenon. Kapan sebuah masyarakat seperti ini ada, bila tidak ada kasta atau keyakinan. Bila tidak ada Hindu, Muslim, kelas atas, atau kelas lebih rendah, maka masyarakat seperti itu akan tercipta.”

Bandnya Bangla berdiri pada 1988.

“Waktu band ini baru terbentuk, kami tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kami hanya ingin mengekspresikan diri. Dalam perjalanannya, sesuatu yang baru muncul, musik Baul dalam sudut pandang orang kota, dimana saya dan anggota band lainnya besar di Dhaka. Untuk mengekspresikan perasaan, saya tidak mungkin melakukannya dengan seruling karena saya tumbuh dalam kemacetan lalu lintas dan telepon genggam serta kebisingan. Kami perlu bunyi gitar untuk mengekspresikan perasaan. Kami tidak dilahirkan di sebuah desa dengan angin sepoi-sepoi dan sungai yang mengalir. Jadi kami menerjemahkannya dan mencapai generasi muda perkotaan, karena itulah ekspresi anak muda Bangladesh.”

Dan band ini menjadi sensasi semalam. Sementara musiknya dianggap eksperimental, band itu punya banyak penggemar Mereka tidak banyak menggelar konser, namun album mereka sangat populer.

“Anak muda benar-benar haus akan sesuatu yang bisa mereka kenali, sesuatu yang baru, dan yang bisa membuat mereka bangga. Setiap kali saya menyanyi, dan pergi keluar, saya benar-benar menyadari kalau kaum muda kita benar-benar haus. Mereka ingin perubahan. Apapun yang Anda berikan kepada mereka akan dijadikan pegangan. Tidak harus sesuatu yang menarik dan fantastis. Band-band di Bangladesh tidak bicara soal Bengali. Kami yang pertama. Mereka lebih banyak membawakan lagu rock. Jadi konsep band yang membawakan lagu-lagu Baul merupakan hal yang baru.”

Saya bertanya lagu apa yang sering penggemar minta untuk mereka bawakan.

“Ada satu lagu, yang sebenarnya bukan lagu Baul asli, tapi lagu yang terinspirasi Baul. Ada begitu banyak aku, yang tinggal di dalam aku, ada satu aku yang menciptakan, ada yang datang dan menghancurkan. Seorang aku sangat hebat dalam membuat kekacauan dan ada aku lain, yang entah bagaimana membawa aku ke depan.”

 

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 24 Januari 2011 13:56 )  

Add comment


Security code
Refresh

Search