
Download Kejayaan perekonomian Cina tak perlu diperkenalkan lagi.
Tapi gambaran kota-kota pesisir pantai yang berkembang pesat tak bisa dianggap sebagai cerminan keberagaman etnis dan pemandangan yang indah.
Pekan ini, koresponden kami Clarence Chua, berkelana ke daerah padang pasir Ningxia dan mencari tahu lebih banyak seputar kaum minoritas Muslim Hui.
Sudah jelang tengah hari di kota administrasi Wuzhong, dan beberapa pelajar etnis Hui tiba di Masjid Beida.
Masjid ini adalah satu-satunya tempat untuk belajar Bahasa Arab atau Al-Quran.
“Nama saya Li Ke Yang, 33 tahun. Saya sudah belajar di masjid ini selama 13 tahun, sekarang masuk tahun ke-14. Saya belajar Qu-ran dan ajaran Islam supaya bisa memajukan wilayah ini dan meningkatkan pengetahuan saya seputar Islam.”
Tapi Imam Masjid Beida bernama Ma menjelaskan, para pelajar muda seperti Li tergolong langka.
“Masjid kami tidak menarik bagi banyak anak muda, tapi lebih banyak untuk orang-orang paruh bayu atau lansia. Mungkin pada bulan Ramadhan Anda akan melihat banyak orang muda. Penyebaran Islam di Cina masih konservatif sekarang. Tidak seperti dulu dimana terjadi perpindahan agama secara masal. Di Cina, Islam adalah kepercayaan pribadi. Kami tidak pernah memaksa orang untuk masuk Islam. Kami ingin masyarakat memeluk Islam secara sukarela.”
Ningxia secara resmi dikenal sebagai provinsi otonomi Hui, tapi pada kenyataannya masyarakat mayoritas adalah etnis Cina Han.
Namun, situasi agak berbeda di kota Wuzhong.
Di sini, para orang Muslim Hui berjumlah lebih dari separuh dari total penduduk yang mencapai 1,5 juta orang.
Orang Cina Hui hampir tak bisa dibedakan dengan orang etnis Han.
Tak seperti orang Cina Muslim lainnya, seperti kaum Uygher, bahasa ibu orang Hui adalah Mandarin.
Tapi mata mereka tak tampak seperti mata nenek moyang mereka.
Banyak orang Hui Muslim yang saya temui matanya berwarna hijau atau coklat muda.
“Sebagian orang Hui adalah pengembara asal Arab dan Persia yang datang ke Cina lewat Jalur Sutera. Mereka menetap di sini dan menikah dengan warga lokal Han atau etnis lainnya.”
Tapi Ibrahim Ma menuturkan, tak semua orang Hui punya latar belakang budaya yang mengakar di Timur Tengah.
“Sebagian orang Hui juga merupakan orang Han yang masuk Islam. Meski ada perbedaan etnis dan agama, kadang di Cina mereka dianggap sama saja. Dan setelah bertahun-tahun, mereka juga disebut sebagai orang Hui. Sekarang jarang sekali orang Han masuk Islam, kecuali dalam pernikahan beda agama.”
Wuzhong juga merupakan wilayah agama dan pusat komersil, dengan 1000 lebih masjid.
Para petugas pemerintah Cina mencoba mengkomersilkan garis keturunan mereka dengan orang-orang Arab.
Pekan lalu, pameran Cina-Arab diadakan di ibukota Ningxia, Yinchuan.
Bahkan ada taman hiburan bak Disneyland yang disebut “Taman Islam” di Yongning yang terletak antara Yinchuan dan Wuzhong.
Meski McDonalds dan Burger King belum ada di bagian Cina ini, tapi merk-merk lokal terkenal seperti Li-Ning dan Stepwolf, sudah mendominasi jalanan nan ramai di Wuzhong.
Dan Ibrahim Wang, 44 tahun, khawatir anak-anak muda Muslim Hui kehilangan identitas agama mereka.
“Tidak ada larangan untuk belajar lebih banyak soal Islam di Cina, tapi ketimbang belajar lebih banyak lagi soal agama, generasi muda Cina Muslim sudah terjebak dalam dunia yang materialistis. Itulah masalah yang paling besar.”
Semua masjid yang saya kunjungi di Wuzhong nampaknya hanya menarik bagi mereka yang sudah tua dan paruh baya.
Ibrahim Ma menjelaskan mengapa ini terjadi.“Kami semestinya menarik lebih banyak lulusan dan mengirim mereka ke Malaysia, Indonesia, Siria dan Timur Tengah, supaya bisa belajar menjadi guru agama yang baik. Tapi ini saja sulit, karena kalau di negara lain, guru agama dihargai, maka di Cina penghasilan mereka kecil dan status sosial mereka tergolong rendah. Jadi wajar saja kalau banyak yang tidak tertarik.”
Wang Jin Yu bertanggung jawab untuk menjalankan pendidikan Islam di Masjid Wunan.Ada anggapan kalau anak-anak muda di Cina punya pemahaman yang rendah terhadap agama lantaran tekanan dari pemerintah.
Ia menolak anggapan itu.
“Kami terus berdiskusi dengan pejabat setempat, supaya lebih memahami satu sama lainnya dengan lebih baik lagi. Untuk memberi tahu mereka persepektif dan kebutuhan kami. Tentunya setelah kejadian 11 September Islam selalu menjadi sorotan. Tapi kami adalah orang Cina Muslim dan kami menolak semua pengarauh ekstrimis dari luar. Islam pada kenyatannya adalah agama yang indah dan penuh kasih. Para pejabat setempat pada umumnya sangat mendukung kegiatan-kegiatan kami, asal kami tidak terjun ke dalam politik. Menurut saya tidak ada penindas umat Islam. Menjadi kaum minoritas malah ada manfaatnya. Kami bisa punya lebih dari satu anak, persyaratan untuk masuk sekolah lebih rendah dan lain-lain.”





Arsip


