
Download Saat hujan tanpa henti mengguyur ibukota Filipina, Manila, dan provinsi di sekitarnya, ini saatnya untuk menguji sistem baru untuk memperkirakan bencana alam di negeri itu.
Sistem itu disebut Proyek NOAH, kependekan dari Penilaian Operasional Bahaya Nasional.
Ide di balik proyek ini adalah untuk memberikan masukan yang lebih baik pada para ilmuwan dan masyarakat, kapan dan di mana bencana akan melanda.
Kita simak laporan lengkapnya yang disusun Simone Orendain dari Radio Australia.
Tampaknya Proyek NOAH harus menempuh jalan panjang sebelum menjadi nama yang dikenal di Filipina.
Saya berbincang dengan belasan orang di daerah bisnis Manila selama jam makan siang dan hampir tidak menemukan orang yang pernah mendengar nama itu.
Sampai ahirnya, saya bertemu Janice Lagundi yang sedang menunggu bus. Ia mengaku hanya tahu sedikit soal NOAH dan yang dia tahu, itu cara untuk memonitor cuaca.
“Jika hujan turun atau ada badai yang bisa menyebabkan lebih banyak hujan dan bisa berakibat banjir, kita harus mengeceknya. Dan saya pikir mereka punya situs yang menunjukkan daerah-daerah yang terkena dan lalu ada kode berwarna yang menunjukkan tingkat kerusakan. Itu yang saya tahu.”
Tidak tahu atau tidak peduli?
Itu bagian dari masalah di Filipina, kata geolog Carlos Primo David.
Menurutnya perilaku orang Filipina terangkum dalam ungkapan 'weather whether lang', yang artinya kurang lebih cuaca itu tidak bisa diprediksi.
“Jika turun hujan maka hari hujan. Itu arti ungkapan itu. Tapi kami menolak untuk meyakini kalau kita tidak bisa memprediksi curah hujan.”
David, salah satu dari ilmuwan dan ahli cuaca yang bekerja untuk alat prediksi bahaya online milik pemerintah yang baru, Proyek NOAH.
Mereka berharap bisa melakukan sesuatu yang lebih baik, bagi negara kepulauan yang sangat rentan dengan banjir, badai, gempa bumi dan letusan gunung berapi itu.
NOAH lahir pada saat banjir di selatan negara itu Desember lalu, yang menyebabkan lebih dari 1200 orang tewas.
Setelah itu, Presiden Benigno Aquino meminta Departemen Sains dan Teknologi untuk meramal cuaca dengan lebih akurat. Tak lama kemudian lahirnya Proyek NOAH.
Direktur Eksekutif proyek itu, Mahar Lagmay, mengatakatan prioritas utama adalah mengembangkan peta beresolusi tinggi negara itu, untuk mengidentifikasi daerah-daerah yang paling rentan.
“Peta yang dihasilkan adalah peta yang akan memungkinkan kita melihat retakan di permukaan bumi, bekas longsoran dan lain-lain.”
Lagmay adalah dosen geologi di Universitas Filipina di Manila.
Ia mengatakan peta yang akan rampung pada 2013 ini, menjadi sangat penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.
“Masyarakat bisa terhubung dengan masalah ini karena mereka bisa melihat rumah mereka dan rumah tetangganya. Mereka juga bisa melihat jembatan serta sungai di daerahnya yang bisa menimbulkan bahaya, terutama ancaman banjir.”
Ia mengatakan proyek itu sudah diuji coba pada Agustus lalu, saat terjadi hujan tanpa henti selama dua pekan, sehingga banjir melanda Manila.
Informasi dikirim lewat jejaring sosial seperti twitter, radio dan televisi. Lagmay mengatakan proyek itu sudah lulus uji coba.
“Proyek ini relatif sukses karena yang kita ingin hindari adalah jatuhnya korban jiwa besar-besaran.”
Tim David, yang juga berbasis di Universitas Filipina, bertanggung jawab atas prediksi banjir.
Mereka harus memprediksi hujan secara lebih baik, dengan cara memasukkan data dari gambar satelit, ratusan alat pengukur curah hujan yang baru dipasang dan radar Doppler.
Di Institut Ilmu Geologi Nasional di Universitas itu, David menunjukkan pada saya, situs yang mengumpulkan data dari ketiga sumber tersebut.
“Sekitar jam lima sore ini ada peluang besar hujan .... ini terdeteksi ada awan hujan di Quezon City.”
Sebelum ada Proyek NOAH, tidak ada ramalan cuaca yang diperbaharui tiap jam bagi sebagian besar masyarat Filipina.
Kini, situs NOAH menunjukkan pada para pengunjung peta cuaca negeri itu. Dengan memasukkan kombinasi lokasi, prakiraan cuaca terbaru, data radar dan lainnya, Anda bisa dengan segera memperkirakan apa yang akan terjadi.
Komponen lain dari proyek itu termasuk prediksi peningkatan badai dan lokasi longsor, diharapkan rampung pada 2014.
Lagmay mengatakan tantangannya sekarang adalah untuk mengajarkan masyarakat kalau cuaca itu bukan sesuatu yang acak, yang sulit diprediksi. Itu merupakan sesuatu yang masyarakat bisa pelajari dengan mudah sehingga mereka bisa bersiap untuk hal terburuk.












