AsiaCalling

Home Berita Indonesia Sebuah Surga Bagi Waria di Indonesia

Sebuah Surga Bagi Waria di Indonesia

E-mail Cetak PDF

Download Tak gampang menjadi menjadi waria di Indonesia.

Beberapa waktu lalu tiga orang transgender ditembak mati di Jakarta Pusat.

Salah satunya adalah bekas Miss Waria Jakarta Barat dan sekaligus duta hak azasi manusia.

Tapi seperti yang dilaporkan Ikhsan Rahajko, satu komunitas Muslim di pinggiran
ibukota Jakarta telah menerima kaum transgender ke dalam kehidupan mereka.


Tania mengikat rambut pa

njangnya sebelum ke lapangan voli.

Ini adalah pertandingan mingguan antar warga di Parung Bingung, Depok.

Tania bukan satu-satunya waria di lapangan sore itu. Ada dua waria lagi di pinggir lapangan yang memberi semangat.

Setelah pertandingan yang ketat, Tania dan tim volinya kalah sore itu. Kata Tania, ia sedang kurang bugar.

“Gak fit karena kita keluar semalam. Dari nyanyi dangdut di Gelanggang, terus ke Prapanca, Taman Lawang terus keliling. Jadi gak ada gerak tangan ini. Apalagi semalam dibawa tamu semalam. Semalam kan dibawa laki-laki juga.”

Di malam hari Tania bekerja sebagi pekerja seks komersil. Tapi sehari-hari ia suka main bola voli.

“Diundang oleh Marinir sana untuk bertanding. Kita siap-siap aja katanya harus rapi. Kitadandan pakai rok. Akhirnya di sana orang udah rapi. “itu perempuan apa banci? Kaya perempuan asli,” kata mereka. Yang menang kan waria makanya orang-orang pada kaget. Masa tenaga waria
lebih dari laki-laki. Ya malu lah masa kalah dari banci.”

Bukan hanya olahraga bola voli saja yang menyatukan komunitas ini.
Warga transgender setempat Tommy Suwito juga memberikan kursus masak dan tata rias untuk para perempuan di sana.

“Sering didatangi ibu-ibu yang mempunyai bidang. Lalu diajarkan di sini. Lalu mengundang orang-orang kampung sini yang bisa diajar, ya diajar. Kalau ada kemauan semua pada datang ngumpul di sini rame-rame banyak. Ada yang bikin kue kemarin. Ada yang coba bikin donat lalu dia jual. Kan ada penghasilan juga kalau sudah pintar.”

Tommy dan waria lainnya adalah bagian dari Forum Komunikasi Waria se-Indonesia. Setahun lalu mereka datang ke daerah ini mencari tempat yang aman, dengan harapan masyarakat bisa menerima markas mereka.

Asnawati adalah ibu rumah tangga setempat.

”Masyarakat sini ya menerima. Yang penting itu saling menghargai dan menjaga lingkungan. Di sini pada menerima, pada senang soalnya gratis rebonding rambut. Dia kan punya salon hehehe.”

Warga lainnya bernama Ahmad Maulana menuturkan sebagian orang menyebut daerahnya sebagai daerah Texas sudah menerima kelompok transgender ini. Tapi ia tak ambil pusing dengan julukan itu.

“RT saya sekarang ini jadi RT Texas. Texas kan kalau di luar negeri kan bebas. Semacam di sini olahraganya kental. Komplit lah di RT kita ini sampai warianya ada bisa masuk ke dalam. RT lain tanggapannya “Wah parah tuh RT 3/13 ada warianya. Waria kan tahu sendiri begini..begini..begini..”

Bagi para kaum transgender ini adalah tempat yang aman.

“Ya perkenalkan nama saya Riko Saputra alias Rika berasal dari Medan. Umur 21. Saya pernah menjadi korban kekerasan oleh petugas kepolisian daerah Jakarta Selatan.”

Pada 2009 Rika disiksa polisi setelah dituding mencuri satu telfon genggam.

Saya kan gak tahu siapa yang ngambil. Di Prapanca kan waria banyak tapi saya dituduh sampai saya dikencingin, dipukuli sekitar 25 orang. “Lu kan PSK sini biar gua kencingin!” ngomong begitu polisinya. Cuma satu orang doang yang kencingin. “Udah kamu minum dulu! Kalau bencong kan biasanya mabok!” polisinya ngomong begitu.

“Gak, Pak, saya gak minum.”

“Ahbencong lu!” kata polisi. Digetok saya pakai botol bir itu. Rambut wig saya dibuang, sepatu, BH. Saya ditelanjangin. Saya disuruh buka baju. “Lu cowok tapi pakai BH! Buka BH-nya!” kata polisi. Dibuang BH-nya ke genteng.”

Pekerjaan bagi kaum waria di Indonesai sangat terbatas – sebagian besar bekerja di industri seks atau salon kecantikan.

Tingkat infeksi HIV/AIDS tergolong sangat tinggi.

Yulianus Rettoblaut adalah kepala Forum Komunikasi Waria Se-Indonesia.

“Kalau kita lihat bahwa hampir sekitar 75-80 persen ya. Dan ini kadang-kadang kalau sudah seperti ini kita menyerahkan kembali kepada polisi dan polisi membawa ke RSCM dan mereka dikubur massal.”

“Agar kita bisa bersama-sama teman-teman waria yang lain kita bisa membina mereka untuk melakukan hanya hal-hal yang positif. Seperti contoh kita bisa melatih mereka yang memiliki bakat menari, yang punya bakat menyanyi kita bisa didik mereka menjadi penyanyi yang baik
atau yang butuh keterampilan gunting rambut atau salon bisa kita juga bina mereka di sana.”

Kembali ke pertandingan bola voli, Renol salah satu pemain dari tim yang menang menuturkan, tak mudah mengalahkan tim dengan pemain waria.

“Kadang-kadang kalau main gabung sama waria kadang kita suka gak fokus mainnya, kadang suka becanda, apalagi suka ketawa hehehe. Kalau main antara sesama (pria -red) ada seriusnya, ada gregetnya.”

Melalui pertandingan bola voli, komunitas ini menunjukkan kalau mereka sudah menyambuat kaum waria ke dalam masyarakat Indonesia.

“Mudah-mudahan ada waria di sini, jangan sampai ada apa-apa. Jangan sampai ada yang bikin kita resah. Biar bikin warga di sini tambah nyaman aja.”

“Kalau harapan saya buat masyarakat ke waria ya tetap rukun, baik, menerima semua yang ada di sini. Sebenarnya menurut pandangan saya waria itu makhluk Allah juga. Kita gak bisa menghakimi dia, kecuali dia mengganggu masyarakat, menjerumuskan remaja generasi penerus.
Tapi kan selama ini enggak.”

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 26 September 2011 13:34 )  

Add comment


Security code
Refresh