Cina kerap dikritik masyarakat internasional karena menempatkan laba di atas perlindungan lingkungan.
Dan negara itu kini merasakan dampak dari penggunaan air secara berlebihan, di mana jutaan hektar tanah pertanian subur berubahan jadi gurun.
Hampir seperempat wilayah Cina adalah gurun, dan situasi ini mempengaruhi kehidupan 400 juta jiwa di sana.
Mampukah Cina membalik tren ini?
Clarence Chua mengunjungi kota Hotan, di mana gurun diubah menjadi perkebunan kurma merah.
Alunan musik tradisioanl Uyghur menemani perjalanan saya ke Hotan di selatan Xinjiang.
Bagian utara Cina punya iklim yang basah dan dingin, sementara di wilayah selatan ini rasanya seperti berada di Timur Tengah.
Perhentian pertama kami adalah salah satu waduk buatan manusia terbesar di Xingjiang.
Waduk ini dibangun Perusahaan Hetian Kunlun Mountain Date milik pemerintah. Waduk ini menampung air dari gunung untuk digunakan di area pertanian.
Bendungan ini diharapkan bisa meningkatkan pembangunan di kota termiskin di daerah otonomi Xinjiang Uyghur, Cina.
Yang Guan Sheng bekerja di perusahaan itu.
“Sebelum 2003, daerah ini berupa tanah tandus. Tahun 2004 kami dengan hati-hati menanam pohon di sini. Sekarang apa yang Anda lihat adalah buah dari kerja keras kami. Lahan pertanian seluas 1,2 juta hektar.”
Dari sini, kita bisa melihat ratusan pohon yang berbaris rapi yang digunakan sebagai penghalang terkikisnya pasir dan pembatas masing-masing tanah pertanian.
Yang mengatakan ini adalah tanaman yang cocok untuk daerah gurun.
“Yang diluar itu ‘Pohon willow Yang’ dan yang itu pohon cemara. Ini tanaman-tanaman keras dan angka kelangsungan hidupnya sangat tinggi. Pohon lain tidak bisa bertahan. Pohon-pohon ini butuh waktu tiga tahun untuk tumbuh. Tujuan utamanya adalah untuk menahan pasir gurun khususnya saat bulan Juni dan Juli ketika ada badai debu. Saat itu Anda tidak bisa melihat apa-apa. Tapi tahun ini tidak seburuk seperti tahun-tahun sebelumnya.”
Dikelilingi Gurun Taklamakan, Hotan mungkin tidak cocok untuk pertanian tapi cuacanya yang lembut dan sinar matahari sepanjang tahun membuatnya sempurna untuk menanam buah-buahan kering.
Sejak 2004, pemerintah Cina telah menyuntikkan lebih dari Rp 2,7 triliyun untuk mengubah gurun menjadi perkebunan kurma merah Cina - salah satu proyek pertama bidang ini di Cina.
Mereka mengundang ratusan petani dari provinsi sekitar situ dan memberikan mereka masing-masing empat hektar tanah secara gratis.
Setelah tiga tahun, para petani ini dan keluarga mereka akan mulai membayar sewa dan kurma itu akan dijual ke perusahaan sesuai harga yang berlaku.
Proyek ini diharapkan bisa meningkatkan pembangunan kota dengan menciptakan lapangan pekerjaan baru, sekaligus memperbaiki lingkungan.
Liu Wenqiang, Wakil Manajer perusahaan.
“Kami mengundang semua profesor di seluruh negeri untuk menilai iklim dan kondisi di sini dan mereka menyimpulkan bahwa tempat ini yang paling cocok untuk menanam kurma merah Cina. Kurma-kurma itu sangat alami tanpa bahan kimia, tanpa pestisida. Di Cina, kurma dianggap sangat baik untuk kesehatan dan ada banyak permintaan. Air dari bendungan disalurkan ke perkebunan ini. Kami menggunakan sistem irigasi tetes yang dikembangkan di Israel, yang menggunakan jumlah yang tepat untuk tanaman. Kemudian kami mengundang petani dari Xingjiang dan provinsi tetangga melalui proses seleksi untuk datang dan berkebun di sini. Tiga tahun pertama sewanya gratis agar petani bisa mulai. Saat ini petani bisa beli dua mobil dan traktor.”
Buah kurma merah Cina yang dikenal sebagai 'jujube', beda dengan kurma yang tumbuh di tempat lain.
Kulitnya lebih tipis, lebih banyak daging buahnya dan rasanya manis.
Secara tradisional kurma ini digunakan dalam sup atau obat Cina, sekarang kurma juga popular dikonsumsi sebagai buah.
Liu mengakui tingginya permintaan kurma merah Hotan di seantero negeri.
Perusahaannya kini bisa menghasilkan 12 ribu ton buah setiap tahun untuk memenuhi permintaan domestik.
Ke Er Limu, seorang pengusaha Uyghur, punya 130 armada. Ia bertanggung jawab mengangkut dua-pertiga dari produksi kurma ini.
“Klien kami punya distributor di setiap sudut negeri ini, dari sini hingga Guangdong. Semua truk kami hanya mengangkut kurma. Menurut saya kami perlu menambah jumlah truk kami untuk memenuhi tingginya permintaan. Tentu saja kami berharap bisa mengekspor ke luar negeri. Jika bisnis ini bagus berarti akan ada lebih banyak pekerjaan bagi masyarakat di sini.”
Perkebunan di Hotan memproduksi lebih dari 400 ribu ton buah tahun lalu, meningkat 15 persen dari tahun sebelumnya.
Keberhasilan proyek ini dapat dilihat dengan dilaksanakannya proyek serupa oleh pemerintah untuk menjinakkan perluasan gurun di Cina.
Dan lebih banyak pohon di padang gurun bisa berarti makin banyak hari dengan langit biru jernih di ibukota Beijing.










